Senin, 12 Desember 2011

Biarkan Anak Bermain dengan Bebas

Ajarkan anak-anak untuk bermain. Mendengar anjuran ini, mungkin Anda segera mengerutkan alis. Bukannya anak-anak memang gemar bermain? Memang, tapi dengan semakin modernnya dunia ini, anak-anak lebih cenderung memilih permainan yang sifatnya lebih terstruktur. Misalnya, bermain video games, bermain kasti dengan teman-teman di sekolah, atau kursus balet bersama anak-anak sebaya. Menurut Darell Hammond, penulis buku best-seller berjudul KaBOOM!: How One Man Built a Movement to Save Play, tipe permainan seperti ini sebenarnya kurang alami untuk anak-anak.

Jenis permainan yang baik bagi anak adalah semua jenis permainan, kata Hammond, yang juga pendiri KaBOOM!, sebuah organisasi nirlaba yang membantu membangun tempat bermain di berbagai komunitas di Amerika Serikat. Yang kita lihat sekarang ini, anak-anak terlalu banyak menjalani aktivitas yang sangat terstruktur dan mendorongnya untuk bermain dalam tim. Padahal, mereka juga butuh permainan yang bebas dan kreatif.

Hammond selalu menekankan pentingnya bermain bagi anak dan mengapa para orangtua perlu lebih sering membiarkan mereka berkreasi mengubah boks sepatu menjadi mobil-mobilan, alih-alih membelikannya mobil-mobilan yang bagus. Menurutnya, permainan seperti ini akan membuat otak anak lebih kreatif bekerja. Saat dewasa nanti, kreativitas ini akan melekat dalam benak mereka pada saat menghadapi berbagai tantangan hidup dan juga pekerjaan.

Lingkungan sekitar rumah adalah tempat bermain yang paling ideal. Apalagi kalau Anda memiliki halaman yang cukup luas. Jadikan berbagai sudut rumah maupun halaman sebagai tempat bermain anak. Hammond memberikan beberapa tip yang berguna bagi para orangtua:

1. Perhatikan desain ruangan
Hammond menganjurkan Anda untuk memilih warna-warna yang cerah untuk tempat bermain anak. Pastikan ruangannya cukup luas untuk berlari dan melompat, serta ada pojokan yang bisa menjadi tempat mereka membaca maupun sekadar duduk santai.

2. Perlengkapan bermain yang wajib
Menurut Hammond, tempat bermain yang baik memiliki beberapa elemen penting. Pertama adalah pasir dan air, sehingga dapat mendorong anak untuk belajar membangun sesuatu dengan daya kreativitasnya. Sementara, yang kedua adalah blok-blok dalam berbagai bentuk, sehingga anak-anak dapat belajar mengenal bentuk dan menciptakan bentuk-bentuk baru.

3. Pendampingan orangtua
Menemani anak-anak bermain akan memberi manfaat tersendiri. Orang dewasa dapat menjadi panutan bagi anak-anak, karenanya Anda perlu sesekali bermain bersama mereka. Namun, jangan sampai Anda malah jadi cenderung mengatur permainan mereka. Biarkan mereka memilih dan mengatur alur permainan sesuka mereka. Anggaplah diri Anda sebagai salah seorang teman bermainnya.

Anak Berkembang Positif Jika Dihargai

Setiap orangtua tentu berbangga jika memiliki buah hati dengan potensi dan konsep diri positif. Anak yang senang bereksplorasi, lebih mampu berperan dalam lingkungannya, mudah bergaul dan bersosialisasi. Untuk mencetak karakter semacam ini, orangtua perlu memberikan penghargaan kepada anak. Dengan begitu, potensi dalam diri anak akan berkembang secara positif.

Penghargaan positif dari orangtua kepada anak bisa beragam bentuknya. Salah satunya, memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi lebih jauh bidang yang diminatinya.

Salah satu contoh, seorang nenek memberikan penghargaan kepada cucunya (saat itu masih duduk di Sekolah Dasar) saat memenangkan kegiatan mengenai lingkungan. Nenek tersebut memberikan hadiah yang kreatif, yakni menyematkan gelar "Menteri Lingkungan Sehari" kepada cucunya.

Anak tersebut, menjalankan peran tersebut dengan sungguh-sungguh. Seperti mengikuti rapat, mendengarkan masalah dan berdiskusi dengan "staf"nya, serta bertanya berbagai hal yang tidak dipahaminya.

Bisa dibayangkan, pengalaman ini pasti akan membuat anak tersebut lebih terpacu untuk berperan dalam memperbaiki lingkungan, setidaknya dalam porsinya sendiri, di manapun ia berada.

Orangtua merugi jika anak tak dihargai
Konsep diri positif seperti ini juga terbangun pada 36 delegasi Konferensi Anak Indonesia (KAI) 2010 yang digelar November lalu. KAI memberikan anak kesempatan dan pembelajaran untuk mengembangkan diri dan bersosialisasi.

Sebagai salah satu konseptor KAI, mengakui anak-anak delegasi KAI memiliki kesanggupan beradaptasi dalam waktu cepat, menerima perbedaan dengan baik, memiliki kepekaan dengan teman-teman dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda.

Dalam konferensi ini, anak-anak memiliki kesempatan mendengar dan berbicara. Anak-anak ini memiliki potensi pemimpin yang bisa mendengar, peka, berani, bertanggung jawab, mampu berperan dalam berbagai hal dan memiliki perasaan kebangsaan yang tinggi.

Kesempatan belajar mengembangkan diri seperti konsep konferensi juga bisa diterapkan orangtua di rumah.

Setiap keluarga bisa menciptakan konferensi anak semacam ini di rumah masing-masing,  anak-anak akan sulit mengembangkan diri secara optimal jika tak diberikan kesempatan.

Adalah suatu kerugian jika orangtua menyia-nyiakan potensi anak karena kurang atau bahkan tidak menghargai anak.

Aktif Bermain Membuat Anak Cerdas

Bermain adalah dunia anak. Namun sesungguhnya, kegiatan bermain dapat mencerdaskan anak. Itu sebabnya para ahli menyarankan agar orangtua mulai mengenalkan aneka jenis permainan sejak bayi.

Menurut Jack Kern, profesor kinesiologi dari University of Arkansas, Amerika Serikat.
Anak yang aktif secara fisik memiliki tingkat konsentrasi yang lebih baik dan hal ini sangat mendukung prestasi akademiknya di sekolah. Penelitian yang dilakukan para ahli di Inggris menguatkan pendapat Kern tersebut. Diketahui bahwa anak-anak yang memiliki gaya hidup sedentari (kurang bergerak) tidak hanya berpontensi menjadi gemuk tapi juga memiliki kecerdasan yang rendah.

Berbagai data dan penelitian juga menyatakan 70 persen perkembangan otak anak di 3 tahun pertama usianya bisa dioptimalkan dengan bermain. Namun, bagaimanakah mekanisme bermain mampu mencerdaskan otak anak?

Saat lahir, otak anak belum terbentuk sempurna dan akan terus berkembang sejalan pertumbuhan seorang anak. Permainan olahraga dan aktivitas fisik pada bayi dan balita akan berpengaruh pada perkembangan otak terutama dalam peningkatan kapasitas otak dalam penyimpanan informasi dan memanggil kembali informasi yang masuk.

Selain itu, agar sel-sel otak makin berkembang dan terhubung satu sama lain, otak perlu dirangsang dan diberi pengalaman. Permainan yang membuat anak aktif bergerak diketahui mempercepat sambungan sel-sel otak pada anak. Lewat permainan, otak juga makin terlatih untuk melakukan tugas-tugas yang butuh konsentrasi.

Bukan hanya itu, permainan fisik akan meningkatkan sirkulasi sel darah merah ke seluruh tubuh. Menurut Dr. Karen Heath dari Research Unit for Exercise Science and Sport Medicine, sel darah merah adalah pembawa oksigen dalam darah.

Dengan meningkatnya aktivitas fisik, meningkat pula sirkulasi darah dalam tubuh anak. Hal ini sangat penting untuk otak, terutama saat anak mengerjakan tugas-tugas ujian yang butuh konsentrasi tinggi.

Itu sebabnya, biarkan anak bermain sepuasnya. Sesibuk apa pun, ajaklah anak bermain dan perkenalkan ia pada variasi permainan sesuai usianya. Yang terpenting adalah aktivitas yang dilakukan menyenangkan untuk anak dan jangan paksa anak melakukan permainan yang tidak disukainya.

8 Cara Mengeratkan Hubungan Keluarga

Indira didampingi Ayah sebelum performance 

Sudah bukan pemandangan aneh lagi bila satu keluarga berkumpul, tapi setiap anggota sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Ayah sibuk mengecek laporan kerja di laptop, anak-anak bermain video games, sedangkan ibu asyik Facebook-an di ponsel. Secara fisik mereka berdekatan, tetapi sebenarnya tidak ada kebersamaan secara emosional karena masing-masing sibuk dengan gadget-nya.
Sangat penting bagi orangtua untuk selalu berusaha meluangkan waktu bersama keluarga baik secara fisik maupun emosi yang dilakukan dengan penuh kasih sayang. Sebagai solusi agar kebersamaan dengan keluarga menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu karena bisa dijadikan sebagai media baik untuk mengembangkan perilaku positif anak. Berikut 8 cara eratkan keluargaku yaitu :

1. Mengontrol emosi. Hasil survei yang dilakukan PT Kraft Foods Indonesia terhadap 250 orangtua dan anak di Jakarta mengenai perilaku penggunaan gadget menunjukkan, sekitar 5 dari 10 anak berpendapat bahwa orangtua mereka suka marah. Hindari emosi negatif seperti marah, kesal, dan kecewa ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan Anda. Juga hindari memotong pembicaraan dan menyalahkan anak.
2. Beraktivitas bersama. Hasil survei menunjukkan, satu dari 10 anak merasa dekat dengan ayah, dan 3 dari 10 anak merasa dekat dengan ibu. Usahakan untuk meluangkan waktu setiap harinya minimal 15 menit bersama keluarga, misalnya dengan melakukan sarapan, makan malam, ataupun ibadah bersama.
3. Tetapkan aturan. Buatlah aturan ketika keluarga sedang bersama, misalnya telepon atau komputer harus dimatikan dan komunikasi dilakukan secara langsung. Hal ini merupakan bagian dari mengembangkan perilaku disiplin.

4. Lakukan kontak mata. Ketika sedang mendengarkan salah satu anggota keluarga berbicara, berikan tatapan mata dengan penuh perhatian agar anak merasa diperhatikan dan didengarkan. Dengan melakukan kontak mata yang baik sambil memperhatikan ekspresi wajah dan bahasa tubuh anak, kita pun dapat memahami perasaan anak kita.

5. Bercerita. Hasil survei menunjukkan, hanya 2 dari 10 orang tua berbagi cerita dengan anaknya. Padahal, aktivitas ini sangat penting untuk membangun kedekatan emosi dengan anak. Mulailah dengan menceritakan perasaan kita akan apa yang terjadi pada hari itu. Setelah itu, giliran anak-anak untuk bercerita. Jika anak belum mau, hindari untuk memaksakan dan membandingkannya dengan sang kakak atau adik.

6. Simak dan ulangi. Dengarkan anak dengan penuh perhatian dan ulangi kembali pernyataannya sebagai bukti telah mendengarnya dengan baik, pamahami perasaannya. misalnya, "Jadi Randy merasa kesal karena tadi di sekolah temanmu bilang potongan rambutmu aneh?"

7. Validasi. Hasil survei menunjukkan, sekitar 8 dari 10 orangtua memperbaiki emosi negatif anak, hindari untuk memperbaiki perasaan anak. Sebaiknya hal yang harus dilakukan adalah memvalidasi perasaan anak, misalnya, "Bunda memahami perasaan Randy, dan menurutmu apa yang sebaiknya kamu atau Bunda lakukan untuk membuatmu lebih nyaman?"

8. Pesan positif. Gunakan waktu bersama menyampaikan nilai-nilai positif untuk mengembangkan perilaku positif, membangun kebiasaan baik seperti gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan sehat dan berolahraga secara teratur.

Agar Anak Kompak dengan Orangtua

Kekompakan keluarga berdampak pada seluruh anggota keluarga terutama pada tumbuh kembang anak. Kebersamaan dan kekompakan di keluarga, menjadi bekal bagi anak saat ia tumbuh remaja bahkan hingga dewasa. Membangun kekompakan di keluarga membutuhkan proses. Ini juga penting disadari sekaligus juga menjadi tugas dan tanggung jawab orangtua.

Keluarga yang kompak punya banyak manfaat, terutama untuk tumbuh kembang anak. Di antaranya, saat anak tumbuh remaja bahkan hingga dewasa, ia takkan terpengaruh hal yang negatif. Anak juga tidak tumbuh menjadi pribadi pemberontak dalam konteks negatif. Selain itu, keluarga yang kompak membuat anak lebih merasa dekat dengan orangtuanya, suka berdialog dengan keluarga, dan anak memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Untuk menciptakan keluarga yang kompak, ada empat syarat utama yaitu :
-  Orangtua perlu memberikan perhatian
-  Memiliki penerimaan atas diri anak
-  Melakukan aktivitas rutin bersama anggota keluarga
-  Memberikan afeksi

1. Orangtua perlu memberikan perhatian kepada anak, secara fisik maupun psikologis. Ini penting untuk menciptakan kebersamaan di antara seluruh anggota keluarga.

2. Orangtua juga perlu memiliki penerimaan atas keunikan, kelebihan, juga kekurangan anak. Dengan begitu anak tak merasa dituntut lebih oleh orangtuanya. Mengenai aktivitas rutin bersama keluarga, ciptakan kebersamaan melalui aktivitas di dalam dan luar rumah.

3. Keluarga perlu liburan bersama, atau karaoke bareng, rekreasi outbond bersama sebagai bentuk aktivitas bersama di luar rumah. Sementara di dalam rumah, ciptakan aktivitas rutin bersama seperti berdoa bersama, sarapan bersama, ciptakan teamwork dalam melakukan pekerjaan rumah, misalnya mencuci piring bersama setelah makan.

4. Dari empat syarat membangun kekompakan dan kebersamaan di keluarga tadi, orangtua bisa memulainya dari mana saja. Bisa dengan memberikan afeksi seperti pelukan atau ciuman kepada anak sejak dini. Atau Anda merasa lebih nyaman dengan melakukan rutinitas bersama melibatkan seluruh anggota keluarga.

Apapun cara awal yang dipilih, pastikan keluarga memiliki kekompakan yang ditandai dengan hadirnya komunikasi dua arah dan ikatan emosional yang kuat antara orangtua-anak.

Pengasuhan itu bicara merawat fisik dan juga hati, mengingatkan pentingnya orangtua membangun kebersamaan sebagai bagian dari tugas pengasuhannya

Minggu, 11 Desember 2011

6 Keuntungan Punya Anak Perempuan

Indira

 
 Indira


 Indira


Indira


Dengan keunikannya, anak perempuan mudah mengambil hati orangtuanya. Entah dengan melakukan kontak mata dengan orang tuanya sejak ia lahir, atau mengucapkan kata "mama" lebih cepat, kelak mereka juga lebih mampu berkomunikasi. Anak perempuan memang akan menghabiskan lebih banyak biaya untuk mendukung penampilannya, atau akan merepotkan bundanya dalam urusan menghadapi menstruasi pertamanya, atau dalam mengatasi mood swing-nya. Anak perempuan memiliki karakteristik yang istimewa.

1. Mereka lebih pintar meniru. Ketika usianya baru tiga jam, bayi perempuan sudah bisa meniru, sebagai awal dari caranya berinteraksi. Menurut sebuah studi, bayi perempuan yang baru lahir lebih mampu meniru gerakan-gerakan jari daripada bayi laki-laki. Pada usia batita, anak perempuan juga lebih pintar daripada anak laki-laki dalam meniru, misalnya berpura-pura mengasuh bayi. Namun kemampuan mereka dalam berperilaku yang tidak membutuhkan interaksi, seperti berpura-pura mengendara mobil atau menyiram tanaman, tidak berbeda dari anak laki-laki.

2. Tangan mereka lebih cekatan. Bayi perempuan mengungguli bayi laki-laki dalam melakukan tugas-tugas motorik halusnya, dan hal ini akan tetap mereka kuasai hingga memasuki kelompok bermain (preschool). Mereka lebih cepat dalam menguasai mainan, menggunakan peralatan makannya, bahkan mampu menulis lebih cepat (dan lebih rapi).

3. Mereka pendengar yang baik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak perempuan lebih mampu membiasakan dengan suara manusia, dan tampaknya lebih peka terhadap suara manusia daripada suara benda-benda lain. Ketika mendengar sesuatu yang bergemerincing, anak perempuan dan laki-laki akan bereaksi dengan cara yang sama. Tetapi ketika
orang tua berbicara, bayi perempuan cenderung lebih merasa terikat.

4. Mereka terampil membaca ekspresi emosional. Bayi perempuan lebih mampu menciptakan dan memelihara kontak mata, dan mereka tertarik pada wajah-wajah individual, khususnya wajah wanita. Mereka juga lebih terampil membaca ekspresi wajah. Jika
orang tuanya menunjukkan gambar wajah yang menakutkan, misalnya, mereka akan menatap orang tuanya, atau menjadi sedih. Sebaliknya, mereka akan baik-baik saja jika melihat ekspresi yang bahagia. Sementara itu, anak laki-laki butuh waktu lebih lama untuk memerhatikan perbedaan antara kedua ekspresi tersebut.

5. Mereka lebih cepat berbicara. Kebiasaan mereka mengamati dan mendengarkan akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan. Bayi perempuan menggunakan gerak tubuh seperti menunjuk atau melambaikan tangan lebih cepat daripada bayi laki-laki, dan mereka menguasai beberapa jenis permainan lebih awal. Anak perempuan memahami apa yang
orang tuanya katakan daripada anak laki-laki, mulai berbicara lebih awal (anak perempuan mulai berbicara sekitar usia 12 bulan, sedangkan anak laki-laki pada usia 13 hingga 14 bulan). Setelah itu, anak perempuan akan lebih cerewet hingga usia balita.

6. Anak perempuan akan mengurus orangtuanya kelak. Mereka tidak saja membuat orang tuanya rajin membeli pakaian dan aksesori yang lucu-lucu untuk mendandaninya, tetapi juga lebih mampu memberi rasa aman terhadap orangtuanya. Tidak seperti anak laki-laki yang cenderung akan menghabiskan waktu senggangnya di luar rumah, anak perempuan lebih peduli untuk menemani orangtuanya di rumah. Ketika dewasa, anak perempuanlah yang umumnya lebih mampu mengurus orangtuanya yang sudah renta.

10 Cara Agar Anak Suka Membaca

Bunda sedang mendongeng untuk Indira




Koleksi buku-buku Indira


Buku merupakan jendela ilmu, maka membaca perlu dijadikan salah satu kegiatan wajib sejak anak-anak masih kecil. Sayangnya, karena berbagai alasan banyak anak tidak suka membaca. Sebagai orangtua, hrs bisa melakukan berbagai trik untuk membiasakan anak gemar membaca. Misalnya, hrs bisa membacakan buku cerita untuk anak, dan membuat kegiatan membaca menjadi lebih menyenangkan baginya.

1. Beri contoh dengan rajin membaca. Anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Sebelum meminta anak untuk rajin membaca, orang tua lebih dulu harus gemar membaca. Ajak mereka membaca setiap hari, walaupun hanya satu jam setiap harinya. Dengan cara ini, anak akan menganggap membaca adalah kegiatan yang penting dan harus dilakukan.

2. Ciptakan tempat yang nyaman
untuk membaca, misalnya kursi yang empuk, atau sofa dengan bantal empuk.

3. Biarkan anak memilih buku yang akan dibaca.
Hal ini akan membantu
orang tua untuk tetap membuat anak tertarik pada buku bacaan sekaligus membuat mereka merasa berguna. Mengunjungi perpustakaan secara rutin akan membantu proses pemilihan buku yang dibaca menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

4. Bicarakan tentang sampul buku.
Anak biasanya akan memilih buku dengan desain sampul yang menarik dan lucu. Ajak mereka untuk menebak isi buku dari penampilan sampulnya. Siapa saja tokoh ceritanya, atau siapa yang menjadi "penjahatnya".

5. Sering menonton film asing, dimana sang tokoh membacakan dongeng dengan mengubah intonasi suara yang berbeda untuk setiap karakternya? Sesekali lakukan hal ini untuk menambah ketertarikan anak saat membaca buku. Pastikan
orang tua tidak membacanya terlalu cepat agar mereka bisa memahami isi ceritanya.

6. Tunjukkan gambar-gambar menarik ketika membacakan buku cerita. Gambar tidak hanya membuat anak lebih terpaku pada isi buku, tetapi juga membantu mereka untuk lebih memahami perilaku tokoh-tokohnya, dan jalan ceritanya.

7.
Setelah membacakan buku, ceritakan kembali pesan moral dalam cerita tersebut. Beri penekanan pada kata-kata penting yang bisa bermanfaat untuk mereka.

8. Cobalah untuk menghubungkan kisah di dalam buku, dengan realita dalam kehidupan
sehari-hari. Berikan contoh bagaimana anak harus bertindak ketika menghadapi sesuatu, berdasarkan apa yang dilakukan tokoh dalam cerita.

9. Pancing sifat kritis anak terhadap buku dengan memberikan beberapa
pertanyaan seperti : Cerita mana yang kamu suka ?, Cerita mana yang tak  kau suka ?, Apa yang kamu pelajari dari cerita ini ?

10. Berikan variasi pada aneka bacaan yang dipilih, agar anak tidak bosan saat mendengarkan ceritanya.