Setiap keluarga punya karakter khas dan unik. Karenanya, pola pengasuhan dalam keluarga tidak bisa dipukul rata. Meski begitu, cobalah amati, sejauhmana pola asuh membuat anggota keluarga Anda tumbuh dengan manusiawi. Artinya, semua anggota keluarga secara alami mengalami proses bertumbuh tanpa ada satu pun tahapan hidup yang terlewati.
Ermalen Dewita, pendiri Yayasan Cerdas Merdeka, Pendidikan Perempuan & Anak, mengedepankan metode fun learning dalam pendidikan anak berbasis karakter untuk usia 2 - 6 tahun.
Metode belajar dengan cara menyenangkan membuat anak belajar banyak hal termasuk problem solving.
Fun learning adalah ketika anak belajar dengan cara mereka namun tetap ada aturan main, tetapi bukan dengan cara interfensi, melainkan dengan cara membangun.
Metode ini juga ditularkan kepada para orangtua untuk diterapkan dalam pola pengasuhan di rumah. Jika di Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak Cerdas, anak-anak dibiasakan dengan pembelajaran menyenangkan, namun di rumah masih dengan cara formal yang tidak membangun, maka jiwa mereka tidak akan terbangun.
Pola pengasuhan di rumah pun semestinya mengedepankan pembentukan karakter. Artinya orangtua mengurangi intervensi terhadap anak. Bahasa sederhananya, tidak mendidik anak dengan menggunakan persepsinya sebagai orang dewasa.
Karakter anak tidak tergali dengan baik ketika banyak hambatan seperti intervensi, bentakan, kekerasan, hingga pukulan. Sebaliknya seseorang bisa berkembang lebih ketika ada dukungan, kasih sayang, dan perhatian dari orangtuanya.
Metode parenting dengan menempatkan anak sebagai pusat perhatian utama merupakan kebalikan dari metode formal yang membuat imajinasi anak tidak berkembang karena dikebiri lantaran intervensi orangtuanya.
Bentuk interfensi di antaranya anak selalu diarahkan, dipaksa, ditekan, dihukum, dilabelkan, dengan persepsi orangtua.
Contohnya, apa yang Anda lakukan ketika melihat anak asyik main sendiri dengan mainan tentara di tangannya, dan tak hentinya berlari ke sana kemari?
Orangtua yang menerapkan metode formal umumnya akan menggunakan persepsinya, kemudian menyuruh anak menghentikan aktivitasnya. Lain halnya ketika orangtua memperhatikan dan saat jeda, bertanya tanpa memaksa kepada si anak tentang aktivitasnya. Orangtua bisa mengetahui bahwa saat itulah imajinasinya sedang berkembang dengan mainannya, si anak tengah menggali jiwanya, menekankan imajinasi anak terpenggal ketika orangtua mengintervensi dengan menyuruhnya diam.
Dengan pola pembentukan karakter terhadap anak, atau berorientasi pada kebutuhan anak, orangtua dapat menggali potensi anak, membantu anak mengeksplorasi dirinya, membangun keberanian diri, dan tidak dihantui rasa takut salah, membebaskan anak menggali rasa ingin tahunya, mengembangkan imajinasinya, membantu proses tumbuh-kembangnya, membangun kemandiriannya, dan menumbuhkan motivasi dirinya.
Dengan begitu, anak akan bertumbuh dengan bangunan jiwa yang kuat dan permanen. Kesadaran diri akan tumbuh dengan sendirinya, termasuk dalam belajar, jadi orangtua tak perlu menyuruh anak belajar tiap datang waktunya belajar, karena anak sudah sadar akan tanggungjawabnya, dalam hal ini untuk belajar.
Rabu, 28 Desember 2011
Mengapa Pendidikan Anak Usia Dini Penting ?
Pendidikan anak usia dini (PAUD) yang baik dan tepat dibutuhkan anak untuk menghadapi masa depan, begitulah pesan yang disampaikan Profesor Sandralyn Byrnes, Australia's & International Teacher of the Year 2011.
Menurut Byrnes, PAUD akan memberikan persiapan anak menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah menghadapi masa sekolah. Saat ini, beberapa taman kanak-kanak sudah meminta anak murid yang mau mendaftar di sana sudah bisa membaca dan berhitung. Di masa TK pun sudah mulai diajarkan kemampuan bersosialisasi dan problem solving. Karena kemampuan-kemampuan itu sudah bisa dibentuk sejak usia dini.
Di lembaga pendidikan anak usia dini, anak-anak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar. Tentunya di usia dini, mereka akan belajar pondasi-pondasinya. Mereka diajarkan dengan cara yang mereka ketahui, yakni lewat bermain. Tetapi bukan sekadar bermain, tetapi bermain yang diarahkan. Lewat bermain yang diarahkan, mereka bisa belajar banyak; cara bersosialisasi, problem solving, negosiasi, manajemen waktu, resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta 1-3 bahasa.
Karena lewat bermain, anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Saat bermain, otak anak berada dalam keadaan yang tenang. Saat tenang itu, pendidikan pun bisa masuk dan tertanam. Tentunya cara bermain pun tidak bisa asal, harus yang diarahkan dan ini butuh tenaga yang memiliki kemampuan dan cara mengajarkan yang tepat. Kelas harusnya berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran. Bukan menjadi ajang tarik-ulur kekuatan antara murid-guru. Seharusnya terbangun sikap anak yang semangat untuk belajar.
Contohnya, bermain peran sebagai pemadam kebakaran, anak tidak akan mendapat apa-apa jika ia hanya disuruh mengenakan busana dan berlarian membawa selang. Tetapi, guru yang mengerti harus bisa mengajak anak menggunakan otaknya saat si anak berperan sebagai pemadam kebakaran, Apa yang digunakan oleh pemadam kebakaran, Nak? Bagaimana suara truk pemadam kebakaran yang benar? Apa yang dilakukan pemadam kebakaran? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan ditanyakan untuk memancing daya pikir si anak.
Selama 7 tahun meneliti pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes juga menemukan sebagian orangtua memiliki konsep bahwa anak-anak di usia itu sudah bisa berpikir. Anak-anak usia dini belum bisa berpikir dengan sempurna seperti orang dewasa. Anak-anak usia tersebut harus dipandu cara berpikir secara besar, cara mencerna, dan berdaya nalar. Sayangnya, beberapa lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia belum mengajarkan mengenai multiple intelligences. Ini kembali ke perkembangan latar belakang ahli didiknya.
Menurut Byrnes, PAUD akan memberikan persiapan anak menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah menghadapi masa sekolah. Saat ini, beberapa taman kanak-kanak sudah meminta anak murid yang mau mendaftar di sana sudah bisa membaca dan berhitung. Di masa TK pun sudah mulai diajarkan kemampuan bersosialisasi dan problem solving. Karena kemampuan-kemampuan itu sudah bisa dibentuk sejak usia dini.
Di lembaga pendidikan anak usia dini, anak-anak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar. Tentunya di usia dini, mereka akan belajar pondasi-pondasinya. Mereka diajarkan dengan cara yang mereka ketahui, yakni lewat bermain. Tetapi bukan sekadar bermain, tetapi bermain yang diarahkan. Lewat bermain yang diarahkan, mereka bisa belajar banyak; cara bersosialisasi, problem solving, negosiasi, manajemen waktu, resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta 1-3 bahasa.
Karena lewat bermain, anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Saat bermain, otak anak berada dalam keadaan yang tenang. Saat tenang itu, pendidikan pun bisa masuk dan tertanam. Tentunya cara bermain pun tidak bisa asal, harus yang diarahkan dan ini butuh tenaga yang memiliki kemampuan dan cara mengajarkan yang tepat. Kelas harusnya berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran. Bukan menjadi ajang tarik-ulur kekuatan antara murid-guru. Seharusnya terbangun sikap anak yang semangat untuk belajar.
Contohnya, bermain peran sebagai pemadam kebakaran, anak tidak akan mendapat apa-apa jika ia hanya disuruh mengenakan busana dan berlarian membawa selang. Tetapi, guru yang mengerti harus bisa mengajak anak menggunakan otaknya saat si anak berperan sebagai pemadam kebakaran, Apa yang digunakan oleh pemadam kebakaran, Nak? Bagaimana suara truk pemadam kebakaran yang benar? Apa yang dilakukan pemadam kebakaran? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan ditanyakan untuk memancing daya pikir si anak.
Selama 7 tahun meneliti pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes juga menemukan sebagian orangtua memiliki konsep bahwa anak-anak di usia itu sudah bisa berpikir. Anak-anak usia dini belum bisa berpikir dengan sempurna seperti orang dewasa. Anak-anak usia tersebut harus dipandu cara berpikir secara besar, cara mencerna, dan berdaya nalar. Sayangnya, beberapa lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia belum mengajarkan mengenai multiple intelligences. Ini kembali ke perkembangan latar belakang ahli didiknya.
Apa perbedaan anak-anak yang belajar di lembaga pendidikan usia dini berkualitas dengan anak-anak yang tidak belajar? Di lembaga pendidikan anak usia dini yang bagus, anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang mandiri, kuat bersosialisasi, percaya diri, punya rasa ingin tahu yang besar, bisa mengambil ide, mengembangkan ide, pergi ke sekolah lain dan siap belajar, cepat beradaptasi, dan semangat untuk belajar. Sementara, anak yang tidak mendapat pendidikan cukup di usia dini, akan lamban menerima sesuatu. Anak yang tidak mendapat pendidikan usia dini yang tepat, akan seperti mobil yang tidak bensinnya tiris. Anak-anak yang berpendidikan usia dini tepat memiliki bensin penuh, mesinnya akan langsung jalan begitu ia ada di tempat baru. Sementara anak yang tidak berpendidikan usia dini akan kesulitan memulai mesinnya, jadi lamban. Menurut saya, pendidikan anak sudah bisa dimulai sejak ia 18 bulan.
6 Manfaat Olahraga bagi Anak
Aktivitas fisik yang tepat akan memacu tumbuh kembang anak secara optimal. Tapi itu bukan berarti si kecil harus melakukan senam jasmani setiap hari.Yang penting anak selalu aktif bergerak.
Olahraga bagi anak, terutama anak balita, tak harus dalam bentuk gerakan terstruktur seperti senam jasmani, brain gym, atau bulutangkis. Kegiatan seperti bersepeda, bermain lompat tali, berlari-larian dengan teman-temannya juga sudah merupakan latihan jasmani bagi anak. Olahraga untuk anak sarat dampak positif seperti disebut di bawah ini.
1. Kesehatan
Mengurangi risiko berbagai penyakit, khususnya yang terkait dengan obesitas. Berbagai penelitian menunjukkan, obesitas pada anak-anak meningkatkan risiko terjadinya penyakit degeneratif, seperti jantung, stroke, dan diabetes, pada usia yang lebih muda. Belum termasuk lebih mudah terkena infeksi dan risiko kanker.
2. Kebugaran
Olahraga yang dilakukan sesuai takaran akan membuat anak bugar sehingga ia bisa lebih aktif dan produktif.
3. Pertumbuhan
Kombinasi olahraga dan diet yang tepat sangat bermanfaat untuk pertumbuhan anak karena merangsang tubuh untuk mengaktifkan hormon pertumbuhan. Sehingga anak bisa mencapai potensi maksimal yang dimilikinya.
4. Perkembangan
Olahraga membantu meningkatkan perkembangan fungsional semua panca indra. Karena saat berolahraga anak-anak dilatih untuk bisa memahami perintah, aturan main, kerja sama, mencari solusi, dan mencapai tujuan.
5. Sosial
Olahraga membuat anak mempunyai watak sosial, terlepas dari karakter olahraga yang individu atau olahraga berkelompok. Dengan memiliki kelompoknya, anak-anak bisa memahami adanya perbedaan, persaingan, persahabatan, kemenangan, dan kekalahan, serta bisa belajar menyikapi semua hal yang terjadi pada dirinya.
6. Kecerdasan
Olahraga dapat membuat koordinasi kerja otak yang semakin bagus sehingga anak mudah menyerap informasi atau pengetahuan yang diberikan. Dampak lainnya, anak mempunyai rasa percaya diri yang baik dan melatih pula keterampilan sosialnya menjadi lebih baik.
Latihan jasmani yang dilakukan rutin dan terus-menerus akan memperkuat jantung dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk memberikan oksigen ke semua sel. Latihan jasmani juga akan menstimulasi perkembangan keterampilan motorik kasar serta motorik halus pada anak.
Bukankah perkembangan motorik yang baik akan memengaruhi kemampuan yang lain, termasuk kemampuan kognitif yang berhubungan dengan kecerdasan anak?
Olahraga bagi anak, terutama anak balita, tak harus dalam bentuk gerakan terstruktur seperti senam jasmani, brain gym, atau bulutangkis. Kegiatan seperti bersepeda, bermain lompat tali, berlari-larian dengan teman-temannya juga sudah merupakan latihan jasmani bagi anak. Olahraga untuk anak sarat dampak positif seperti disebut di bawah ini.
1. Kesehatan
Mengurangi risiko berbagai penyakit, khususnya yang terkait dengan obesitas. Berbagai penelitian menunjukkan, obesitas pada anak-anak meningkatkan risiko terjadinya penyakit degeneratif, seperti jantung, stroke, dan diabetes, pada usia yang lebih muda. Belum termasuk lebih mudah terkena infeksi dan risiko kanker.
2. Kebugaran
Olahraga yang dilakukan sesuai takaran akan membuat anak bugar sehingga ia bisa lebih aktif dan produktif.
3. Pertumbuhan
Kombinasi olahraga dan diet yang tepat sangat bermanfaat untuk pertumbuhan anak karena merangsang tubuh untuk mengaktifkan hormon pertumbuhan. Sehingga anak bisa mencapai potensi maksimal yang dimilikinya.
4. Perkembangan
Olahraga membantu meningkatkan perkembangan fungsional semua panca indra. Karena saat berolahraga anak-anak dilatih untuk bisa memahami perintah, aturan main, kerja sama, mencari solusi, dan mencapai tujuan.
5. Sosial
Olahraga membuat anak mempunyai watak sosial, terlepas dari karakter olahraga yang individu atau olahraga berkelompok. Dengan memiliki kelompoknya, anak-anak bisa memahami adanya perbedaan, persaingan, persahabatan, kemenangan, dan kekalahan, serta bisa belajar menyikapi semua hal yang terjadi pada dirinya.
6. Kecerdasan
Olahraga dapat membuat koordinasi kerja otak yang semakin bagus sehingga anak mudah menyerap informasi atau pengetahuan yang diberikan. Dampak lainnya, anak mempunyai rasa percaya diri yang baik dan melatih pula keterampilan sosialnya menjadi lebih baik.
Latihan jasmani yang dilakukan rutin dan terus-menerus akan memperkuat jantung dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk memberikan oksigen ke semua sel. Latihan jasmani juga akan menstimulasi perkembangan keterampilan motorik kasar serta motorik halus pada anak.
Bukankah perkembangan motorik yang baik akan memengaruhi kemampuan yang lain, termasuk kemampuan kognitif yang berhubungan dengan kecerdasan anak?
Selasa, 20 Desember 2011
5 Cara Menstimulasi Potensi Anak
Menurut Sani B. Hermawan, psikolog dan direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, tahun pertama hingga ketiga usia anak (baca: 1-3 tahun: Usia Penting Tumbuh Kembang Anak) merupakan periode emas kehidupan anak untuk bertumbuh dan berkembang. Pada usia tersebut, anak sedang dalam proses membentuk dirinya. Pengembangan kognisi serta emosi pada usia dini ciptakan fondasi paling hakiki si kecil. Peran orangtua di sini sangat penting, mulai dari pemberian nutrisi yang lengkap dan seimbang, hingga membantu si kecil mencapai perkembangan mental dan daya kognisi yang optimal (baca: 5 Aspek Perkembangan Anak)
Lanjut Sani, potensi anak bisa digali lewat stimulasi, berikut ini 5 cara untuk menstimulasi potensi anak, yakni:
1. Permainan gerak atau permainan fungsi
Yaitu permainan yang dilaksanakan dengan gerakan tujuan melatih fungsi organ tubuh dan panca indera. Misal: melempar benda, menggerak-gerakkan kaki, meremas benda, identifikasi suara, bunyi, dan lainnya.
2. Permainan fantasi/peran
Yaitu permainan yang dipengaruhi oleh fantasi seorang anak. Misal: berperan sebagai ayah/ibu, dokter, nelayan, dan lain sebagainya.
3. Permainan problem solving
Permainan yang mengandung kecerdasan/keterampilan berpikir. Yang melibatkan penyelesaian masalah, misalnya; menjawab teka-teki atau menemukan jawaban dalam suatu masalah, dan lainnya.
4. Permainan bentuk
Mencoba membentuk (konstruktif) suatu karya atau memugarnya (destruktif) suatu karya karena ingin mengetahui komponen atau ingin mengubahnya.
5. Permainan kelompok (team work)
Contoh, membuat yel-yel atau membangun menara.
Lanjut Sani, potensi anak bisa digali lewat stimulasi, berikut ini 5 cara untuk menstimulasi potensi anak, yakni:
1. Permainan gerak atau permainan fungsi
Yaitu permainan yang dilaksanakan dengan gerakan tujuan melatih fungsi organ tubuh dan panca indera. Misal: melempar benda, menggerak-gerakkan kaki, meremas benda, identifikasi suara, bunyi, dan lainnya.
2. Permainan fantasi/peran
Yaitu permainan yang dipengaruhi oleh fantasi seorang anak. Misal: berperan sebagai ayah/ibu, dokter, nelayan, dan lain sebagainya.
3. Permainan problem solving
Permainan yang mengandung kecerdasan/keterampilan berpikir. Yang melibatkan penyelesaian masalah, misalnya; menjawab teka-teki atau menemukan jawaban dalam suatu masalah, dan lainnya.
4. Permainan bentuk
Mencoba membentuk (konstruktif) suatu karya atau memugarnya (destruktif) suatu karya karena ingin mengetahui komponen atau ingin mengubahnya.
5. Permainan kelompok (team work)
Contoh, membuat yel-yel atau membangun menara.
4 Cara Agar Si Kecil Punya Banyak Teman
Inginnya anak memiliki kemampuan untuk berteman dan punya banyak teman, tapi orangtua cenderung khawatir jika anak bermain sesuka hatinya dan akhirnya membatasi aktivitas anak. Padahal, setiap orang adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain.
Perlu juga diketahui, kesuksesan di masa depan juga ditentukan oleh kemampuan seseorang menjalin networking, yang dipelajarinya dalam pergaulan sehari-hari sejak kecil.
Untuk menjawab kekhawatiran orangtua, inilah empat cara yang dapat dilakukan agar anak tetap dapat bermain dan berteman:
1. Memaksimalkan sekolah.
Di sekolah, anak bertemu dengan anak-anak sebaya dan belajar bersosialisasi. Bila lingkungan rumah kurang mendukung bagi anak untuk bermain, carikan sekolah yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Sesekali undang teman sekolahnya untuk bermain di rumah, atau biarkan anak bermain ke rumah temannya.
2. Memaksimalkan tempat bermain.
Saat ini banyak tempat bermain yang tersedia untuk mengasah perkembangan kemampuan si prasekolah. Baik yang gratis seperti di taman kota maupun yang harus membayar di pusat pembelanjaan.
Orangtua bisa membawa anak bermain ke sana untuk bertemu teman sebayanya. Biarkan anak bermain bersama, dengan tetap diawasi dari jauh. Jangan terlalu mengatur anak untuk melakukan ini-itu. Biasanya setelah melihat banyak permainan, ia akan asyik bermain dengan anak-anak lain yang ada di situ.
3. Ajak bertemu banyak orang.
Bila kebetulan tinggal di lingkungan yang tidak banyak anak sebaya, sering-seringlah mengajak si prasekolah ke acara keluarga atau acara lainnya sehingga ia berkesempatan untuk bergaul.
Kalau orangtua mudah curiga, dengan penculikan anak dan sebagainya, antarkan anak bermain ke rumah sepupunya sehingga ia bisa bermain dengan orang terpercaya dan aman. Yang terpenting adalah kemampuan berinteraksi anak dengan orang lain tetap terasah.
4. Gali bakat dan minatnya.
Perhatikan apa yang disukai atau diminati anak. Masukkan ia ke dalam komunitas tersebut. Misalnya anak suka menggambar, ikutkan ke kursus menggambar. Kalau anak suka menari, masukkan ke sanggar tari. Bertemu dengan anak-anak lain yang mempunyai hobi atau minat yang sama akan memudahkan pertemanannya.
Cara ini juga bisa dimanfaatkan untuk anak introver. Sekalipun ia lebih suka menarik diri, namun saat berada di lingkungan yang pas, ia lebih mudah bergaul atau menikmati pertemanannya.
Perlu juga diketahui, kesuksesan di masa depan juga ditentukan oleh kemampuan seseorang menjalin networking, yang dipelajarinya dalam pergaulan sehari-hari sejak kecil.
Untuk menjawab kekhawatiran orangtua, inilah empat cara yang dapat dilakukan agar anak tetap dapat bermain dan berteman:
1. Memaksimalkan sekolah.
Di sekolah, anak bertemu dengan anak-anak sebaya dan belajar bersosialisasi. Bila lingkungan rumah kurang mendukung bagi anak untuk bermain, carikan sekolah yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Sesekali undang teman sekolahnya untuk bermain di rumah, atau biarkan anak bermain ke rumah temannya.
2. Memaksimalkan tempat bermain.
Saat ini banyak tempat bermain yang tersedia untuk mengasah perkembangan kemampuan si prasekolah. Baik yang gratis seperti di taman kota maupun yang harus membayar di pusat pembelanjaan.
Orangtua bisa membawa anak bermain ke sana untuk bertemu teman sebayanya. Biarkan anak bermain bersama, dengan tetap diawasi dari jauh. Jangan terlalu mengatur anak untuk melakukan ini-itu. Biasanya setelah melihat banyak permainan, ia akan asyik bermain dengan anak-anak lain yang ada di situ.
3. Ajak bertemu banyak orang.
Bila kebetulan tinggal di lingkungan yang tidak banyak anak sebaya, sering-seringlah mengajak si prasekolah ke acara keluarga atau acara lainnya sehingga ia berkesempatan untuk bergaul.
Kalau orangtua mudah curiga, dengan penculikan anak dan sebagainya, antarkan anak bermain ke rumah sepupunya sehingga ia bisa bermain dengan orang terpercaya dan aman. Yang terpenting adalah kemampuan berinteraksi anak dengan orang lain tetap terasah.
4. Gali bakat dan minatnya.
Perhatikan apa yang disukai atau diminati anak. Masukkan ia ke dalam komunitas tersebut. Misalnya anak suka menggambar, ikutkan ke kursus menggambar. Kalau anak suka menari, masukkan ke sanggar tari. Bertemu dengan anak-anak lain yang mempunyai hobi atau minat yang sama akan memudahkan pertemanannya.
Cara ini juga bisa dimanfaatkan untuk anak introver. Sekalipun ia lebih suka menarik diri, namun saat berada di lingkungan yang pas, ia lebih mudah bergaul atau menikmati pertemanannya.
Rabu, 14 Desember 2011
Anak Kreatif Akan Lebih Sukses
Umumnya, orangtua ingin anaknya cerdas, terlebih di bidang mata pelajaran sekolah. Namun perlu disadari, kecerdasan saja tidak cukup untuk membuat anak sukses. Anak juga harus kreatif, sebab dengan kreatif, ia bisa mengatasi masalah dalam kehidupan.
Kesuksesan bisa ditentukan dengan 20% kecerdasan dan 80% kreativitas. Berarti, penting bagi kita menstimulasi daya kreativitas anak supaya kelak ia bisa sukses.
Setiap anak punya daya kreativitas dan kita sebagai orangtua wajib mengasahnya.
Kesuksesan bisa ditentukan dengan 20% kecerdasan dan 80% kreativitas. Berarti, penting bagi kita menstimulasi daya kreativitas anak supaya kelak ia bisa sukses.
Setiap anak punya daya kreativitas dan kita sebagai orangtua wajib mengasahnya.
Pertama, saat balita ajak anak belajar sambil bermain. Ketika menginjak usia sekolah, ikuti gaya belajar yang membuatnya nyaman. Mungkin saja, ia tak bisa maksimal belajar lantaran harus duduk manis dan memilih belajar sambil berpindah-pindah tempat. Sama halnya bila ia suka belajar sambil mendengarkan musik, mendendangkan lagu, atau lainnya.
Kedua, manfaatkan sarana yang ada di rumah untuk belajar. Seperti menghitung jumlah gelas yang ada di rak, warna-warna yang ada di ruang tamu, bentuk-bentuk geometri yang ada di ruang makan, dan lainnya. Kita juga bisa menggunakan alat-alat yang tak terpakai seperti bekas gelas air mineral maupun fasilitas, seperti komputer, internet, sebagai sarana anak belajar.
Ketiga, berkomunikasilah intens dengan anak. Ajak ia berdiskusi mengenai berbagai masalah dalam keseharian. Jika ada masalah, ajari anak untuk mencari solusi, lalu berikan kesempatan kepada anak untuk mengatasi masalahnya sendiri. Cara ini akan menstimulasi daya kreativitas anak untuk mengatasi masalah.
Keempat, hindari kata "jangan" ketika melarang anak melakukan sesuatu yang membahayakan atau yang tidak perlu. Sebab kata ini akan "memasung" daya kreativitas anak. Ganti dengan kata "sebaiknya" sambil menjelaskan mengapa ia perlu mempertimbangkan untuk melakukan hal yang "sebaiknya" itu.
Kelima, kita perlu membiasakan anak untuk menemukan alternatif jawabannya. Misal, kita bertanya mengapa anak harus sekolah? Jawaban yang biasa mungkin supaya ia pintar. Tetapi alternatif jawaban lain bisa beragam, misal, supaya ia bisa belajar banyak hal positif, supaya kelak ia bisa menjadi dokter, supaya ia bisa bermain dengan teman-temannya, dan lainnya.
Keenam, jika anak sudah menunjukkan kreativitasnya, kita perlu memberinya penghargaan. Tak perlu mahal, tetapi bisa membuat anak merasa dihargai, seperti pelukan, pujian, belaian, dan lainnya.
Kedua, manfaatkan sarana yang ada di rumah untuk belajar. Seperti menghitung jumlah gelas yang ada di rak, warna-warna yang ada di ruang tamu, bentuk-bentuk geometri yang ada di ruang makan, dan lainnya. Kita juga bisa menggunakan alat-alat yang tak terpakai seperti bekas gelas air mineral maupun fasilitas, seperti komputer, internet, sebagai sarana anak belajar.
Ketiga, berkomunikasilah intens dengan anak. Ajak ia berdiskusi mengenai berbagai masalah dalam keseharian. Jika ada masalah, ajari anak untuk mencari solusi, lalu berikan kesempatan kepada anak untuk mengatasi masalahnya sendiri. Cara ini akan menstimulasi daya kreativitas anak untuk mengatasi masalah.
Keempat, hindari kata "jangan" ketika melarang anak melakukan sesuatu yang membahayakan atau yang tidak perlu. Sebab kata ini akan "memasung" daya kreativitas anak. Ganti dengan kata "sebaiknya" sambil menjelaskan mengapa ia perlu mempertimbangkan untuk melakukan hal yang "sebaiknya" itu.
Kelima, kita perlu membiasakan anak untuk menemukan alternatif jawabannya. Misal, kita bertanya mengapa anak harus sekolah? Jawaban yang biasa mungkin supaya ia pintar. Tetapi alternatif jawaban lain bisa beragam, misal, supaya ia bisa belajar banyak hal positif, supaya kelak ia bisa menjadi dokter, supaya ia bisa bermain dengan teman-temannya, dan lainnya.
Keenam, jika anak sudah menunjukkan kreativitasnya, kita perlu memberinya penghargaan. Tak perlu mahal, tetapi bisa membuat anak merasa dihargai, seperti pelukan, pujian, belaian, dan lainnya.
Anak Perlu Diajak Nonton Pertunjukan
Tak sedikit orangtua ragu ketika ingin mengajak batitanya menonton suatu pertunjukan. Takutnya, si batita nanti tak bisa duduk diam atau malah rewel, bahkan menangis minta pulang sebelum pertunjukan usai.
Kendati demikian, bukan berarti anak batita tak dapat diajak menonton pertunjukan seperti pentas lumba-lumba, operet anak, sirkus, dan lainnya. Kalaupun anak rewel atau ingin pulang, ikuti saja. Karena, lebih penting untuk mengenalkan pertunjukan pada anak banyak manfaat yang bisa dipetik oleh anak dari kegiatan menonton pertunjukan, di antaranya :
Belajar mengenal ekspresi emosi
Selama menonton pertunjukan, anak melihat berbagai ekspresi, gerakan-gerakan, dan lagu atau nyanyian yang menggambarkan suasana senang, gembira, bahkan sedih.
Menambah kosakata
Selama menyimak dialog atau lagu dalam pertunjukan, anak mendapat stimulasi berupa penambahan perbendaharaan kata baru. Pengetahuan dan wawasannya jelas akan bertambah.
Mengasah kemampuan beradaptasi
Di lokasi pertunjukan yang merupakan tempat baru dengan suasana baru, si balita dituntut belajar beradaptasi, berhadapan dengan orang-orang yang tak dikenal, suasana yang ramai, ruangan yang bising, sorotan lampu-lampu, juga ruangan yang diredupkan untuk menimbulkan kesan dramatis. Semua itu diharapkan dapat mengenalkan anak dengan suasana lingkungan yang demikian dinamis.
Belajar tertib
Meskipun si batita pada dasarnya tidak bisa diam, ia tetap bisa diajarkan untuk duduk tenang, dan fokus selama beberapa menit demi menyimak pertunjukan. Kalau pertunjukan yang ditontonnya menarik, pasti ia mau mengamati apa yang dilihatnya. Dengan begitu, anak belajar tertib terhadap diri sendiri agar tidak mengganggu penonton lain. Sejak dari rumah, beri tahu anak untuk bisa tertib, sopan, dan tak mengganggu orang lain. Namun, tak perlu memarahinya jika si kecil tetap ingin berdiri di atas kursi, menghalangi pandangan, atau teriak-teriak. Cukup jauhkan si kecil dari penonton lain.
Mengasah keberanian, pede, dan motorik
Anak belajar berani dan percaya diri untuk duduk sendiri di kursinya, tidak lagi dipangku. Jika para penampil mengajak penonton berdiri, bernyanyi, dan bertepuk tangan, contohkan padanya bagaimana cara mengikuti ajakan tersebut. Nah, dengan ikut menggerakkan badan, berarti ia melatih kemampuan motorik dan kepekaannya terhadap ritme musik.
Meningkatkan kedekatan dengan orangtua
Dengan mengajak anak menonton pertunjukan, akan didapat kesenangan yang melekatkan relasi orangtua-anak. Momen ini sangat berarti bagi si kecil, apalagi yang sehari-harinya ditinggal ibu dan ayah bekerja.
Langganan:
Postingan (Atom)