Rabu, 11 Januari 2012

Agar Si Kecil Mudah Bangun Pagi

Salah satu rutinitas pagi hari yang cukup membuat Anda frustrasi adalah saat membangunkan si kecil. Saking sulitnya dibangunkan, si kecil sering terlambat masuk sekolah karenanya. Anda tak perlu langsung murka karenanya. Coba ingat-ingat lagi, apakah Anda atau suami Anda juga memiliki kesulitan tersebut waktu kecil ?
Namun, ada beberapa cara untuk membuat si kecil lebih mudah bangun di pagi hari.

1. Amati kebiasaan tidurnya
Bila si kecil sulit bangun pagi, kemungkinan ia juga butuh waktu lama untuk tertidur. Tanyakan pada si kecil, apa yang membuatnya susah tidur. Pastikan anak tidak minum minuman yang mengandung kafein pada sore hari.

2. Pastikan ia bisa tidur lelap
Jika anak tidak memiliki masalah untuk tidur, kemungkinan ia memang butuh waktu lebih banyak untuk tidur. Setiap orang berbeda; mungkin si kecil akan bangun lebih mudah pada pagi jika ia tidur satu atau dua jam lebih lama. Namun, membuat anak tidur lebih cepat juga merupakan tantangan besar untuk Anda!

3. Gunakan metode yang berbeda-beda untuk membangunkannya
Tidak semua anak merespons metode yang sama. Ada yang langsung terbangun ketika Anda menyalakan lampu di kamarnya. Ada yang hanya perlu disentuh sedikit sambil dipanggil namanya. Namun ada juga yang harus diguncang-guncang, bahkan didudukkan sambil sedikit diseret keluar. Cari cara terbaik dan cocok untuk si kecil.

4. Siapkan sarapan kesukaannya
Anda mungkin akan langsung terbangun bila mencium aroma kopi dan roti bakar berisi keju. Untuk si kecil, mungkin Anda bisa menyiapkan makanan kesukaannya yang menimbulkan aroma yang dahsyat. Entah itu nasi goreng dengan telur ceplok, atau roti dan sosis goreng. Biarkan pintu kamarnya terbuka agar ia bisa mencium aromanya.

5. Biasakan si kecil bangun sendiri
Membiasakannya bangun sendiri memang akan sulit, karena itu Anda perlu bersabar dalam mendorong anak melakukannya. Namun Anda harus melalui tahapan ini, karena jika tidak, anak akan kesulitan membangunkan dirinya sendiri hingga dewasa nanti. Dengan mengajak anak belajar bangun sendiri, secara tak langsung Anda juga mempersiapkannya menghadapi dunia nyata.

Senin, 09 Januari 2012

Agar Liburan Anak Makin Berkesan

Gua Maria Kerep Ambarawa

Candi Borobudur


Gunung Merapi

Bagi para orangtua, kesempatan berlibur dapat digunakan untuk mendekatkan diri dengan anak-anak. Selalu ada kenangan indah yang tersimpan di memori anak-anak setelah berlibur. Kenangan ini akan berpengaruh bagi masa depan mereka kata Dr Mel Borins, asisten profesor dari University of Toronto dan penulis buku Go Away Just for the Health of It.
Penelitiannya tentang hal ini sudah dimuat di Science Journal. Ia mengamati perubahan yang terjadi dalam hubungan keluarga para pekerja yang diberi perpanjangan waktu libur hingga 13 minggu. Hasilnya, responden mengaku bisa berkomunikasi dan berinteraksi lebih baik dengan pasangan maupun anak-anaknya. Sebanyak 25 persen malah menambahkan, mereka dapat bekerja dengan lebih efisien pascaliburan.
Liburan juga bisa menjadi saat yang tepat untuk mengenalkan anak-anak pada berbagai tempat menarik sambil memperluas wawasan mereka. Apalagi, mengingat selama ini "wisata" keluarga dilakukan sebatas ke mal atau menginap di vila.
Agar liburan keluarga berkesan dan bermanfaat, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan:
* Ajak anak-anak merencanakannya. Keterlibatan dalam perencanaan liburan membuat mereka lebih antusias pada saat perjalanan. Jika anak-anak masih kecil, kitalah yang harus merencanakan, kemudian baru memberikan gambarannya kepada mereka.
* Tetapkan tema tertentu untuk setiap masa liburan. Diskusikan pilihan tema liburan bersama anak-anak yang lebih besar, dan fokuskan pada manfaat yang bisa mereka dapatkan dari tempat-tempat wisata yang dikunjungi.
* Beri "pancingan" agar lebih semangat. Sebelum berangkat liburan, coba perlihatkan film, foto, atau klip tentang sisi menarik tempat yang akan dituju. Dijamin, anak-anak makin bersemangat.
* Ciptakan obrolan bermutu seputar objek yang dikunjungi. Apa gunanya membawa anak-anak ke objek wisata, sekadar melihat-lihat, lalu pulang. Lebih baik, luangkan sedikit waktu untuk membicarakan hasil kunjungan dan kesan apa yang mereka dapat dari sana. Orangtua pun perlu membekali diri dengan sedikit referensi sejarah atau legenda tempat yang dikunjungi. Kalau perlu, manfaatkan jasa pemandu wisata yang biasanya punya banyak informasi.

Agar Batita Disiplin, Pahami Cara Pikir Mereka

Anda pasti setuju, anak perlu diajarkan disiplin sejak dini. Namun, ternyata mengajarkan hal ini kepada anak berusia di bawah tiga tahun (batita) tidaklah mudah. Di satu pihak, orangtua ingin mengajarkan mereka untuk mengikuti aturan yang sudah dibuat demi kebaikan mereka. Di lain pihak, anak-anak pada usia ini sudah menjadi lebih mandiri dan mulai merasa diri mereka sebagai individu. Tetapi, mereka juga masih belum dapat menyampaikan keinginan dan memiliki nalar yang baik.

Para batita sudah paham bahwa segala yang mereka lakukan akan memberi hasil. Mereka merasa punya kekuatan untuk melakukan sesuatu kata Claire Lerner, ahli perkembangan anak dan direktur organisasi yang bergerak di bidang parenting, Zero to Three. Mereka tidak mau diperlakukan seperti bayi lagi. Masalahnya, kendali diri mereka masih sangat rendah dan kemampuan rasionalnya juga belum sempurna. Ini yang membuat para orangtua jadi jengkel.

Agar para orangtua dapat mengajarkan batitanya disiplin, disarankan untuk terlebih dulu memahami jalan pikiran dan perasaan mereka. Para orangtua harus ingat bahwa anak-anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini. Mereka mungkin masih belum dapat memahami apa yang Anda katakan maupun perintah yang Anda sampaikan. Untuk itu Anda perlu menyatakan bahwa Anda tahu apa yang mereka rasakan. Katakan bahwa Anda tahu dia tidak suka apabila diajak mandi di saat sedang menonton, atau marah jika harus berhenti main dan pergi tidur siang. Setelahnya, sertai dengan memberinya pengertian, mengapa hal itu perlu dilakukan.
Orangtua harus menentukan batasan bagi anak. Namun, lakukanlah dengan cara yang baik, sehingga memperlihatkan bahwa Anda menghargai anak. Dengan begitu, anak juga bisa belajar menghadapi rasa frustrasi atau kesal, dan juga mematuhi peraturan.

Selain itu, Anda juga bisa memberikan pilihan pada anak, untuk menunjukkan rasa respek Anda terhadapnya dan bahwa Anda memahami perasaannya. Misalnya, dengan bertanya pada anak apakah dia mau membawa buku favoritnya atau snack saat akan pergi naik mobil. Ini akan membuat anak berpikir, mereka masih bisa punya kendali atas dirinya sendiri, meskipun Anda juga tetap memegang kendali utama.

Agar Anak Tak Takut Tidur Sendiri

Ketika anak Anda masih bayi, mungkin Anda tak akan mengalami kesulitan untuk tidur karena rasa takut gelap di malam hari. Hal ini disebabkan karena Anda selalu menjaganya disetiap malam, sehingga mereka tidak akan merasa takut saat siang atau malam hari.

Namun, ketika anak-anak mulai beranjak balita, pasti akan ada saatnya untuk mengajarkan mereka untuk berani tidur di kamarnya sendiri. Ketika tiba waktunya untuk tidur sendiri, balita cenderung akan mengalami kesulitan untuk tidur sendiri di malam hari. Tak jarang waktu tidur malam menjadi sangat menakutkan untuk mereka.

Gelapnya malam ini berubah menjadi sangat menakutkan bagi balita berusia empat tahun. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan daya kognitif pada otak dan juga tingkat imajinasi yang tinggi kata Jonathan Kushnir, PhD, seorang ilmuwan dari Tel Aviv University.

Ketakutan ini harus segera dihilangkan agar anak-anak menjadi mandiri dan menghindari kecemasan akan gelap yang berimbas pada terganggunya tidur malam.

Jangan terlalu sering untuk menemani anak Anda dan menjaganya sampai tertidur, karena hal ini justru akan membuat mereka mengandalkan Anda dan akhirnya tidak bisa mandiri. Balita yang mengandalkan orang tua untuk menjaganya sampai tertidur di malam hari, akan membuat mereka sering terbangun di malam hari dan semakin ketakutan pada gelap sampai mereka dewasa.

Benda teman tidur

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi ketakutan anak agar mereka bisa tidur sendiri dan nyenyak di malam hari.  Salah satu caranya adalah dengan memilih lampu tidur yang cantik, dan disukai anak sehingga menghadirkan rasa nyaman untuk anak-anak. Selain itu, tak ada salahnya untuk menyediakan sebuah boneka lucu di atas tempat tidurnya.

Dari percobaan yang dilakukan, tiga dari empat anak yang diberikan berbagai item kenyamanan yang ada di dalam kamarnya seperti boneka, atau lampu tidur yang cantik, bisa mengurangi ketakutan saat tidur malam, dan justru dapat meningkatkan kualitas tidur setelah satu bulan kata Kushnir dalam European Journal of Pediatrics.

Sugesti

Untuk menghilangkan ketakutan anak saat tidur malam, berikan anak Anda mainan baru seperti boneka. Lalu katakan padanya bahwa ia harus melindungi boneka tersebut dari gelap malam agar mereka bisa tidur nyenyak. Hal ini akan membuat anak Anda bisa merasa lebih hebat sehingga harus melindungi bonekanya tersebut.

Cara lainnya adalah dengan mengatakan padanya bahwa boneka yang tidur bersamanya itu bertugas untuk menjaga mereka agar tetap aman dan nyaman. Ucapan ini akan membuat anak Anda bisa tidur lebih nyenyak karena mereka merasa aman dan terlindungi.

5 Cara Membangun Kedekatan dengan Anak

Merayakan ulang tahun Indira

Bercanda dgn Indira


Setiap orangtua perlu menyadari seberapa dekat dirinya dengan anak-anaknya. Artinya, orangtua perlu berupaya untuk merespons kebutuhan emosional anak, sehingga anak pada akhirnya merasa dimengerti dan dihargai. Setiap anak memiliki kebutuhan akan afeksi dan perhatian yang berbeda, tergantung kepribadian dan temperamennya. Karenanya, cara setiap orangtua dalam mendekatkan diri kepada anak bisa berbeda, antara keluarga satu dengan keluarga lainnya.

Inilah tantangan yang dihadapi orangtua modern. Pasalnya, banyak orangtua bekerja yang disibukkan dan dibuat stres dengan tuntutan pekerjaan dan karier. Belum lagi kekhawatiran orangtua mengenai kondisi keuangan yang memberikan tekanan tersendiri bagi keluarga. Bagaimanapun kondisinya, adalah tugas orangtua untuk tetap membangun kedekatan dengan anak-anaknya. menciptakan hubungan emosi positif yang bermanfaat dan berdampak besar bagi anak.

Berikut
lima prinsip sederhana yang perlu diaplikasikan orangtua agar memiliki hubungan akrab dengan anak:

1. Menerima temperamen anak.
Setiap anak tumbuh dengan temperamen yang unik, hasil dari pengasuhan dan didikan sejak belia bahkan sejak lahir. Temperamen anak umumnya terbagi empat kategori, easygoing, suka tantangan, tenang, campuran dari beberapa temperamen.
Tugas penting orangtua adalah menyesuaikan diri dengan kepribadian anak. Tantangan semakin besar ketika orangtua memiliki temperamen yang bertolak belakang dengan anak. Sebagai orang dewasa, menerima temperamen anak akan membantu anak dan menimbulkan rasa aman dan percaya. Dampaknya, anak merasa nyaman dengan dirinya, identitasnya.

2. Investasi waktu.

Banyak orangtua yang mengkotak-kotakkan antara kuantitas dan kualitas waktu. Anggapan saya memang tak banyak meluangkan waktu namun ketika ada waktu saya selalu bersenang-senang dengan anak. Untuk mempunyai kualitas waktu dengan anak, orangtua perlu meluangkan sebanyak mungkin waktu bersama anak-anaknya. Kebersamaan yang lebih sering dengan anak, menjadi momen untuk membangun kepercayaan, saling memelajari bahasa cinta masing-masing antara orangtua-anak, selain juga memahami sepenuhnya karakter anak.
Momen berkualitas bersama anak tercipta dari aktivitas sederhana namun sering. Mulai saja dengan selalu berbicara dengan anak mengenai aktivitasnya seharian. Lakukan percakapan sesering mungkin. Membacakan cerita atau buku, kepada anak-anak juga bisa menjadi pilihan.

Anak-anak membutuhkan keduanya, kuantitas dan kualitas waktu menurut Janie Lacy, konsultan kesehatan mental bersertifikat dari
Orlando.

3. Berikan sentuhan.
Sentuhan, sekecil apapun, memberi dampak besar bagi anak. Bahkan sekadar memberikan "tos" atau melakukan permainan adu panco. Apalagi memberikan kecupan saat anak mulai tertidur pulas di malam hari. Jangan sepelekan sentuhan-sentuhan kecil ini.
Sentuhan dari orangtua, merupakan pembelajaran bagi anak, bahwa ia merasa aman dan disayangi orangtuanya. Meski begitu, sekali lagi, orangtua perlu memahami kepribadian anak. Boleh jadi ada anak yang tak suka dikecup di depan teman-temannya. Ia hanya suka dipeluk saat berduaan saja dengan ayah atau ibunya misalnya. Mengenali kebutuhan dan kepribadian anak akan membantu orangtua dalam memberikan bentuk sentuhan yang tepat pada waktu yang tepat.
 
4. Mengajarkan anak nilai dan life skill.

Jangan asal berkata "Sudah, lupakan saja" atau "Kamu seharusnya nggak perlu merasa seperti itu," saat anak sedang mengalami masalah atau bermasalah dengan emosi negatifnya. Cara seperti ini takkan efektif, dan terekam dalam otak anak yang akhirnya berpengaruh pada kepribadiannya saat dewasa.
Saat anak memiliki emosi negatif, ajarkan mereka untuk mengatasinya bukan mengabaikannya. Ajak anak mengatasi perasaan dan mencari solusi untuk mengubah emosi negatif menjadi lebih positif. Dengan begitu, anak-anak akan mampu mengelola emosinya lebih baik.
Selalu katakan pada anak, bahwa Anda bersedia menjadi tempat berbagi. Anak selalu memerhatikan dan belajar dari setiap perilaku orang terdekatnya. Jadi jika ingin anak selalu berbagi dan mampu mengelola emosi, Ayah ibunya juga harus mampu menjadi contoh baiknya.

5. Menjadi contoh tangguh.
Anda adalah contoh bagi anak-anak. Bagaimana Anda mengelola stres, menghadapi masalah keluarga, bertahan dan menjaga keharmonisan rumah tangga di saat sulit sekalipun, inilah yang dipelajari anak dari ayah dan ibunya. Jika Anda dan pasangan membuktikan bahwa dalam kesulitan apapun, kondisi rumah tangga dan  keluarga selalu kuat dan harmonis, dengan selalu berpikir dan bertindak positif, anak akan merasa aman dan nyaman.
Inilah sejumlah hal yang dapat membangun kedekatan orangtua-anak. Kesabaran, kegigihan, kesadaran dari orangtua menjadi kunci suksesnya. Pasangan suami-istri, akan menikmati hidupnya lebih baik, dengan kedekatan dan keakraban bersama anak-anaknya.
Menyaksikan anak bertumbuh dan berkembang hingga dewasa dengan cara positif, bukankah menjadi sumber kebahagiaan dan kesuksesan yang seutuhnya bagi orangtua ?

4 Cara Efektif Menegur Anak

Setiap hari, hidup Anda tidak jauh dari meminta anak mematikan televisi, membereskan mainan, hingga menyuruhnya mandi. Dan permintaan ini seringnya tidak hanya diucapkan sekali, melainkan harus berkali-kali. Tak heran juga bila Anda juga kerap harus setengah menjerit agar anak mau mendengar dan melakukan apa yang diminta.

Faktanya: Ketika Anda berteriak, "Ayo dong, kamu dengar ibu, tidak ?", sebenarnya anak Anda mungkin memang tidak mendengar. Bukan karena suara Anda kurang keras, tetapi karena cara menegur kita kurang efektif. Hasilnya sama saja dengan ketika Anda mengomel panjang-pendek kepada pasangan atau customer service di mal -hanya diiyakan tapi tidak dilakukan.

Jadi, bagaimana supaya Anda tidak perlu "tarik urat" setiap kali meminta anak melakukan sesuatu ? Coba terapkan 4 tips ini:

1. Jangan bersaing dengan layar televisi, video games, dan suara musik. Percuma saja Anda bicara ketika mereka sedang fokus ke arah lain, karena mereka tidak akan mendengarkan. Matikan televisi dan musik, atau minta anak meletakkan game-nya sebentar, barulah bicara dengannya.

2. Minta dia menatap Anda. Anak-anak akan merasa Anda serius kalau mereka diminta melihat ke arah Anda. Jadi, ketika sekali Anda bicara dan dia tidak dengar, katakan padanya, "Coba kamu lihat ke sini. Ibu lagi ngomong, nih." Setelah matanya menatap Anda, barulah ulangi permintaan Anda.

3. Jangan menjerit. Di satu sisi, menjerit dapat memuaskan rasa jengkel Anda karena tidak diperhatikan. Namun, di lain pihak, jeritan Anda dianggap anak sebagai tanda bahwa Anda marah. Dia tidak akan memahami lagi bahwa yang Anda inginkan adalah dia membereskan mainannya. Tidak heran kalau bukannya beranjak, dia malah akan duduk manis tapi tidak melakukan apa yang Anda minta. Utarakan keinginan Anda dengan suara yang tenang dan tegas, maka pesan Anda akan segera diterima dengan baik.

4. Kalimat retoris tidak akan mempan. Mungkin saja anak tidak akan menanggapi saat Anda mengomel, "Berapa kali, sih, Ibu harus beritahu kamu supaya menaruh baju kotor di keranjang ?" Tapi pesan ini tidak akan sampai ke benaknya dan ia akan tetap meninggalkan baju kotornya di kamar. Jadi, daripada buang waktu dan tenaga dengan kalimat-kalimat retoris seperti ini, lebih baik katakan langsung apa yang Anda inginkan, "Taruh baju kotormu di keranjang. Sekarang."

Minggu, 01 Januari 2012

Floor Time 30 Menit Bersama Anak

Floor time adalah sebuah konsep yang diperuntukkan untuk menjalin interaksi antara orangtua dengan anak secara efektif dan berkualitas. Waktu untuk aktifitas yang dibutuhkan berkisar antara 20 sampai 30 menit. Dengan cara ini, diharapkan terciptanya kedekatan emosi dan merangsang pertumbuhan anak.
Konsep floor time ini menekankan bahwa anak adalah subjek. Sehingga dalam penerapannya, disarankan kepada orangtua agar selalu berorientasi pada minat dan opini anak. Peran orangtua adalah untuk memotivasi, mengarahkan dan mencegah jika tindakannya mengarah pada hal-hal yang berbahaya.
Membuka dan menutup jalur komunikasi. Jika anak anda menggerakkan mobil mainannya dan kemudian anda mengikutinya atau berkata "kemana kita akan pergi?" atau "Bolehkah bonekaku menumpang dimobilmu?" maka anda telah membuka jalur komunikasi dengannya.
Jika ia memberi respon melalui isyara atau ucapan dengan mengatakan, Kita akan pulang ke rumah, maka ia telah menutup jalur komunikasi itu. Anda juga disarankan untuk membagi informasi-informasi baru yang belum diketahuinya. Misalnya, anda bisa beritahu tentang kenapa jumlah ban mobilnya ada empat dan berbentuk bulat.
Ciptakan suasana lingkungan permainan yang sesuai. Bentuk minat alami anak perlu didukung dengan lingkungan yang sesuai. Misalnya, jika anak anda berminat untuk bermain mobil-mobilan, anda sebaiknya menyediakan mainan mobil, tempat yang cukup lapang, boneka kecil sebagai penumpangnya, dll.
Jadilah sebagai penyambung dari mainan. Misalnya anda bisa berperan dan berbicara sebagai boneka penumpang mobil yang dimainkannya. Anggap saja mainan itu sebagai media interaksi dengan anak anda.
Interaksi bersifat kreatif dan spontan. Beberapa anak cenderung lebih baik dengan jenis mainan tertentu. Sementara yang lain lebih memilih berinteraksi langsung dengan anda. Apapun pilihan dan minat anak, bangunlah suasana yang membuat anak mampu mengeksplorasi beberapa situasi dan perasaan nyata secara imajinatif yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari.
Mengembangkan alur komunikasi. Saat anda berpartisipasi dengan anak, cobalah untuk mengembangkan daya imajinasi anak sekaligus mengenalkan informasi padanya. Untuk itu anda terlebih dahulu mengenal dan memperhatikan aktifitas anak. Misalnya ketika anak anda membuat kegaduhan dengan memukul-mukulkan palu mainan, anda bisa memberi komentar "Wahh hebat sekali anak bunda, kamu seperti drumer", kemudian anda bisa kembangkan aktifitas tersebut dengan irama dan nyanyian yang sesuai. Jika anda menunjukkan minat terhadap apa yang sedang dimainkannya, anak akan merasa dihargai dan merasa mendapatkan dukungan dan kasih sayang.
Gaya permainan yang obstruktif. Terkadang anda akan menemukan bahwa anda telah berhasil mengembangkan permainan atau percakapan dengan anak melalui interaksi dalam sebuah gaya permainan yang obstruktif. Misalnya, jika ia menghindari anda selama permainan. Carilah cara agar anda mendapatkan tempat dalam permainannya. Misalnya ketika ia sedang bermain mobil-mobilan dan ia tidak ingin anda terlibat, cobalah jadikan perut anda sebagai jalanannya atau membuat terowongan dengan tangan anda.
Pada prinsipnya anda dituntut untuk aktif dan mengikuti dan mengembangkan permainan yang diminati anak. Oke..Selamat bermain dan bersenang-senang bersama anak