Kamis, 29 Desember 2011

Anak Ceriwis Tanda Cerdas


Suka bercakap-cakap atau ceriwis merupakan salah satu pertanda kecerdasan karena berarti anak mampu menyerap informasi secara verbal, memahami, menarik kesimpulan, dan mengungkapkannya lewat keterampilan berbahasa yang baik.

Kelancaran anak berbicara dimulai pada usia 2 tahun. Di usia ini ia sudah bisa merangkai kata menjadi kalimat sederhana, kosakatanya semakin bertambah, dan penguasaannya terus berkembang. Apalagi jika lingkungan memberi stimulasi yang memadai.

Seiring dengan pertambahan usia, kemampuan anak semakin meningkat. Ia pun menjadi lebih ceriwis. Lebih lanjut, anak jadi ceriwis karena ia merasakan kesenangan saat bereksplorasi dengan lingkungan, baik itu orang baru, hal-hal baru, pengetahuan baru, dan sebagainya.

Selain itu anak juga banyak bicara dengan tujuan mendapatkan perhatian lingkungan. Dia belajar dari pengalamannya, dengan banyak bicara orang jadi memperhatikannya karena dianggap menarik atau lucu.

Yang jelas, anak-anak yang senang bicara dan bercerita biasanya senang berinteraksi dan berani mengungkapkan apa yang mereka pikirkan, rasakan dan inginkan kepada orang lain. Mereka memiliki potensi untuk bergaul dan mengembangkan relasi interpersonal yang lebih luas dibanding dengan anak-anak yang kurang terbuka dan kurang aktif bicara.

7 Kalimat untuk Menginspirasi Anak

Sebagai orang tua, sudah sepatutnya jika Anda selalu menginspirasi anak dengan berbagai kalimat pembangkit semangat. Namun, situasi hati yang sedang tak menentu kadang membuat kalimat yang keluar dari mulut kita justru membuatnya patah semangat.
Berkomunikasi dengan anak-anak dengan efektif bisa sangat sulit, terkadang kata yang kita sampaikan artinya bisa berbeda ketika sampai di telinga mereka. Karena, anak-anak tidak bisa diharapkan untuk mampu mencerna kata-kata dan konteks kalimat dengan cara yang sama dengan orang dewasa, kata Vicki Panaccione, PhD, psikolog dan pendiri Better Parenting Institute di Melbourne.
Jika Anda ingin anak-anak bisa tumbuh menjadi yang terbaik, usahakan mengganti kata-kata yang Anda sampaikan dengan kata-kata yang membantu membangun karakter anak.

Kalimat Anda: "Kamu yang terbaik"
Yang didengar anak: "Tugasmu adalah membuat bunda senang"
Kalimat yang lebih baik: "Kamu harus bangga atas kerja kerasmu"

Tak ada salahnya memuji keberhasilan anak. Namun, jangan terlalu berlebihan. Pujian yang berlebihan dapat menjadi bumerang bagi orang tua dalam tumbuh-kembang anak. Anak-anak akan menjadi haus pujian, dan akhirnya mereka akan menjadi orang-orang yang selalu ingin dipuji. Selain itu, dengan pujian seperti "kamu hebat", "kamu cantik", "kamu pintar" secara tak langsung akan membuatnya berpikir bahwa Anda hanya mencintainya saat mereka terlihat hebat, dan pandai saja.
Sebuah penelitian yang dilakukan Carol Dweck, PhD, psikolog sosial dari Columbia University, menyatakan, anak-anak yang dipuji karena "berusaha keras" saat melakukan tes ternyata lebih mampu melakukan tugas yang sulit dibandingkan anak-anak yang dipuji karena "pintar".
Memuji sifat anak dan membuat janji bahwa mereka akan sukses karena anak-anak punya sifat tersebut akan mengurangi nilai usaha, sehingga anak-anak menjadi takut menghadapi tantangan. Karena mereka pikir dengan punya sifat itu saja sudah cukup sehingga mereka akan berhenti ketika mereka sudah selangkah lebih maju dibanding teman lainnya.

Kalimat Anda: "Jaga cara bicaramu"
Yang didengar anak: "Bunda sudah mengajari kamu cara bicara"
Kalimat yang lebih baik: "Bunda senang kamu sudah bicara pada bunda. Tetapi, lain kali tolong jangan menggunakan kalimat itu lagi, karena bisa membuat orang tersinggung"

Memang mengkhawatirkan bila anak-anak sering meniru kalimat-kalimat makian yang didengarnya di televisi. Namun Anda bisa menegurnya dengan kalimat alternatif yang lebih baik, sehingga mereka pun menyadari kesalahannya. Ingatlah juga bahwa pembicaraan tentang kalimat yang dianggap kurang sopan dan menyinggung perasaan ini sebaiknya dilakukan saat akhir pembicaraan.

Kalimat Anda: "Bunda tidak punya uang membelinya"
Yang didengar anak: "Uang adalah segalanya"
Kalimat yang lebih baik: "Di rumah, kita sudah punya semua barang di toko itu"

Bagi Anda, anak-anak pasti tak membutuhkan dua jenis mainan yang sama. Namun, berulang kali mengungkapkan bahwa Anda tidak punya uang adalah satu-satunya alasan bahwa mereka tidak bisa memiliki barang yang diinginkannya. Hal ini menciptakan kesan bahwa uang adalah sumber semua hal baik dalam hidup. Pasti Anda ingin punya anak yang berkelimpahan sampai dewasa, bukan secara materi, tapi dalam arti bahwa apa yang Anda miliki membawa sukacita, kata Marcy Axness, PhD, seorang spesialis perkembangan anak.

Kalimat Anda: "Jangan takut, semua akan baik-baik saja"
Yang didengar anak: "Kamu terlalu berlebihan"
Kalimat yang lebih baik: "Bunda tahu apa yang kamu alami, ceritakan pada bunda"

Ketika seorang anak pulang dalam keadaan kesal karena diejek teman, atau gagal menjadi juara, maka hiburan dari Anda sangat diperlukannya. Tapi anak-anak perlu belajar bagaimana mengekspresikan perasaannya, menghadapi dan menyelesaikannya. Jika tidak, mereka akan sulit menghadapi masalahnya.
Di sisi lain, anak-anak tidak seharusnya selalu terpuruk pada perasaan sedihnya. Jika hal ini terjadi, lebih baik Anda memberikan dorongan yang mereka butuhkan agar mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Orangtua biasanya lebih memilih memberikan kenyamanan dengan hanya mendengarkan daripada bicara. Jika Anda hanya terbiasa mendengarkan, maka anak akan selalu curhat ke Anda, namun tidak akan mendapat motivasi apapun kata Mel Levine, MD, dokter anak dari University of North Carolina.

Kalimat Anda: "Jangan bicara pada orang asing"
Yang didengar anak: "Semua orang yang tidak kamu kenal pasti akan menyakiti kamu"
Kalimat yang lebih baik: "Jangan bicara pada orang yang membuat kamu tidak nyaman"

Kalimat ini sebenarnya menandakan kekhawatiran orangtua yang takut anaknya akan jadi korban penculikan. Namun fenomena sekarang ini menunjukkan, anak tak hanya menjadi korban penculikan dari orang asing saja, tapi justru menjadi korban penculikan oleh orang yang sudah dikenal baik. Inilah sebabnya mengapa lebih masuk akal untuk memberitahu anak untuk waspada terhadap siapapun, orang asing maupun kenalan yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

Kalimat Anda: "Kamu harus berbagi"
Yang didengar anak: "Berikan mainanmu"
Kalimat yang lebih baik: "Adikmu mau bermain dengan mainanmu sebentar. Jangan khawatir, mainan itu tetap jadi milikmu, dan ia akan mengembalikannya"

Anda tidak akan memberikan kunci mobil Anda kepada tetangga Anda. Analogi inilah yang perlu disampaikan pada anak jika Anda meminta mereka untuk berbagi mainan. Anak-anak masih sulit untuk membedakan dengan jelas antara objek mereka sendiri, dan yang bisa digunakan untuk berbagi. Jadi pada dasarnya Anda meminta mereka untuk memberikan bagian dari diri mereka sendiri kata David Elkind, PhD, psikolog dan penulis buku The Hurried Child.
Salah satu cara agar anak percaya benda tersebut masih menjadi miliknya adalah dengan menuliskan nama pada benda yang akan dipinjamkan kepada orang lain. Dengan demikian ia tahu bahwa Anda tak memaksanya untuk memberikan mainannya kepada orang lain.

Kalimat Anda: "Kenapa kamu...." (melanggar jam malam, memukul adik, atau membuat keributan)
Yang didengar anak: "Kamu pengacau"
Kalimat yang lebih baik: "Menurut bunda, kamu melanggar jam malam karena kamu tak mau segera pulang. Bunda bisa mengerti, tapi jangan diulangi lagi ya, Nak!"

Orangtua terkadang terlalu banyak memberikan pertanyaan yang cenderung menghakimi anak, dan membuat anak mengakui perbuatannya. Padahal, Anda sebenarnya sudah tahu jawabannya. Hal ini akan membuat Anda terlihat seperti diktaktor. Orangtua memang perlu memberitahu anak ketika mereka berbuat salah. Namun, rasa malu yang terlalu sering dialami anak akan mematikan perasaan bersalahnya.
Anak-anak tanpa hati nurani adalah anak yang tidak pernah mengembangkan kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Hal ini dapat menyebabkan mereka mencuri, berbohong, berkelahi, dan melakukan kekerasan. Lebih baik katakan bahwa Anda tahu apa yang mereka lakukan, kemudian jelaskan mengapa hal itu tak boleh dilakukan.

5 Langkah Mengatasi Anak Pemalu

Orangtua kerap merasa kebingungan untuk mengatasi anak mereka yang punya sifat pemalu. Jika selalu membantu sang anak untuk mengatasi rasa takut dan malu saat bertemu orang baru, Anda pasti khawatir akan perkembangan kehidupan sosialnya di masa depan. Selain itu, anak-anak juga akan selalu tergantung pada orangtuanya. Anak-anak pemalu cenderung membatasi pengalaman mereka, tidak mengambil risiko sosial yang diperlukan, dan hasilnya mereka tidak akan memperoleh kepercayaan diri dalam berbagai situasi sosial.
Namun, ada beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua agar anak-anak merasa lebih nyaman dalam kelompok, yakni mempraktekkan keterampilan kompetensi sosial dan membuatnya tak menjadi anak pemalu.

1. Gunakan kontak mata. Saat bicara dengan anak, biasakan untuk selalu menggunakan kontak mata langsung. Secara tak sadar, hal ini akan memperkuat rasa percaya diri anak. Adanya kontak mata saat menghadapi lawan bicara akan menimbulkan kepercayaan diri bagi seseorang. Namun, jika anak tak nyaman saat melakukan kontak mata, ajarkan dia untuk bicara sambil menatap hidung lawan bicaranya. Dengan beberapa kali latihan seperti ini, lama-kelamaan rasa percaya dirinya akan meningkat dan teknik ini tak lagi dibutuhkan.

2. Ajarkan percakapan pembuka dan penutup.
Buatlah sebuah daftar kalimat untuk membuka dan menutup percakapan untuk berbagai kelompok seperti, orang yang belum pernah ditemui, orang yang sudah dikenal, seorang teman baru, dan lainnya. Kemudian latihlah mereka untuk berbicara saling berhadapan dengan berbagai tipe lawan bicara yang mungkin ditemuinya. Melatih kemampuan dan keberanian secara langsung dengan lawan bicara akan jauh lebih berhasil untuk mengurangi rasa malu anak dibandingkan dengan pembicaraan di telepon.

3. Melatih dalam berbagai situasi sosial.
Jika kebetulan Anda menghadiri acara yang tidak terlalu formal dan diperbolehkan membawa anak, ajaklah dia dalam acara tersebut sekaligus melatihnya untuk menghilangkan rasa canggung dan malu. Siapkan anak untuk menghadapi acara tersebut dengan menjelaskan situasi yang kemungkinan akan terjadi, begitu juga mengenai orang yang akan mereka temui, sampai apa yang Anda harapkan dari si kecil. Hal ini bertujuan untuk membuatnya nyaman dan lebih mengenal situasi acara karena anak-anak akan lebih nyaman dan lebih berani ketika mereka sudah mengenal sebuah tempat dan acaranya terlebih dahulu. Kemudian bantu ia untuk berlatih saat bertemu orang baru, mengenal table manner, keterampilan percakapan, sampai mengucapkan selamat tinggal.

4. Berlatih dengan anak yang lebih muda. Philip Zimbardo, psikolog yang kerap menangani masalah menghadapi rasa malu, merekomendasikan sebuah cara untuk mengatasi rasa malu pada anak-anak. Caranya dengan mengelompokkan anak pemalu dengan anak-anak yang usianya lebih muda. Secara tidak langsung mereka akan memulai percakapan dan secara naluri akan membuat mereka lebih percaya diri karena dia merasa lebih dewasa dan bisa melindungi adik-adiknya.

5. Gunakan metode "one on one". Dr Fred Frankel, psikolog dari UCLA Social Skills Training Program, menyarankan, untuk mengatasi rasa malu pada anak, gunakan metode one on one sebagai cara untuk membangun kepercayaan sosial. Ini adalah suatu metode Anda mengundang seorang anak lain untuk bermain bersama anak Anda selama beberapa jam. Hal tersebut bertujuan agar mereka mengenal satu sama lain, dan melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kemampuan berteman.

4 Kiat Saat Mengajar Anak Membaca

Orangtua yang berniat mengajarkan membaca pada anak usia prasekolah, tak ada salahnya mencoba. Pada prinsipnya, muatan apa pun dapat diajarkan pada anak usia prasekolah. Asalkan pastikan teknik pengajaran yang digunakan sesuai dunia anak-anak dan tak ada unsur paksaan.

Herlina Mustikasari SPd, MA, PhD, dari Lembaga Easy Reader, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan mengatakan yang juga perlu dicermati orangtua, titik berat pengajaran membaca untuk anak usia prasekolah adalah menumbuhkan minat baca bukan kemampuan membaca.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat akan mengajari anak membaca:

1. Ingat, mereka adalah anak-anak, bukan orang dewasa seperti kita. Sesuaikan metode pengajaran dengan kapasitas usianya.
2. Gunakan teknik yang menarik untuk anak.
3. Saat mengajari anak, hindari hal-hal yang bisa menganggu konsentrasi, seperti suara televisi.
4. Catat setiap sesi belajar dan kemajuan yang ada untuk dianalisa sebagai bahan mengajar lebih jauh.

Rabu, 28 Desember 2011

Orang Tua Kreatif Hasilkan anak Cerdas

Setiap orang tua pasti ingin memiliki anak yang cerdas. Banyak hal pun dilakukan agar sang buah hati tumbuh besar dan cerdas, salah satunya dengan memberikan pendidikan formal maupun informal. Meskipun begitu, saat di rumah orang tua tetap memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan anak, khususnya anak yang masih balita.
Orang tua memiliki porsi yang sangat besar dalam tumbuh kembang anak. Guru-guru di sekolah hanya sebagai partner orang tua dalam mendidik anak, dan bukan sebaliknya.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mendidik anak-anak di luar jam sekolahnya. Fasilitas-fasilitas yang ada di sekolah, memang belum tentu ada di rumah. Di sini lah kreativitas orang tua diperlukan untuk menggunakan peralatan yang ada dan biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari agar anak bisa belajar dan mengenal.
Dengan lebih mengenal bagaimana harus menjalani kehidupan sehari-hari secara langsung, anak tidak hanya sekadar menghafal teori-teori semata. Orangtua bisa memberikan anak sedikit tanggung jawab untuk merapikan tempat tidurnya sendiri, ataupun menyiram tanaman. Anak pun akan lebih mudah menyerap informasi dari orang tuanya karena adanya hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan anak. Ini hubungan alami yang terjadi antara orang tua dan anak. Dengan demikian anak akan merasakan rasa aman dan nyaman ketika belajar dengan orang tuanya.
Tak hanya membantu anak mengulang kembali pelajaran ataupun aktivitas lain di sekolah, orangtua juga harus mengetahui setiap tahap perkembangan anak di sekolah. Dengan demikian, komunikasi antara guru dan orangtua sangat diperlukan untuk mendukung tumbuh kembang anak dengan optimal dan menghasilkan anak yang cerdas.

Meningkatkan Perkembangan Sosial Anak

Anak harus memiliki dunia sosial. Hanya saja, dalam perkembangannya, ia harus mendapat pengarahan dari orangtua. Apa saja ?

Untuk Bayi
Kalau Anda menuntaskan tugas-tugas rumah tangga dengan mengajak bayi Anda, ia acap mendapat banyak perhatian dari orang-orang di sekitar Anda. Ia melihat banyak wajah dan mendengar suara-suara baru, jadi pastikan untuk bicara kepadanya dan selalu dekat dengannya agar ia merasa nyaman dengan kehadiran Anda. Ini akan membantunya mengembangkan rasa aman dan memberinya kepercayaan diri menghadapi lingkungan dan wajah-wajah yang belum diakrabinya.

Anda juga akan menemukan kalau bayi Anda tertarik kepada bayi-bayi lain yang Anda temui sepanjang jalan. Jangan ragu untuk berhenti dan biarkan bayi Anda berinteraksi dan bermain dengan mereka. Mereka bisa 'bersosialisasi' dengan kontak mata dan berkomunikasi melalui suara dan gerak tubuhnya.

Jika Anda meninggalkan rumah dan kembali, ucapkan "Selamat tinggal" dan "Halo" atau salam lainnya kepada semua anggota keluarga. Setelah beberapa lama, hal ini mengajarkan kepada bayi Anda bahwa ia selalu disambut kembali oleh keluarganya. Ketika besar nanti ia akan mempercayai keluarganya untuk kembali lagi jika bepergian.

Untuk Balita
Pujilah balita Anda karena tingkah baiknya saat Anda keluar bersama di tempat umum. Misalnya, saat Anda berada di bank, katakan seperti, "Bunda bangga kepadamu karena kamu sabar menunggu di antrian." Ini akan memberi rasa nyaman pada dirinya dan membantunya merasa hebat atas kecakapannya.

Buatlah bermain sebagai bagian dari tugas sehari-hari Anda. Misalnya dengan pergi ke taman dekat rumah atau mengundang orangtua dan anak lain untuk bermain bersama sehingga anak Anda bisa beinteraksi dengan anak-anak lain dalam lingkungan yang berbeda-beda. Ini akan membuat tugas sehari-hari Anda lebih menyenangkan bagi Anda berdua dan sekaligus anak Anda belajar bersosialisasi.

Kegiatan di luar rumah bersama balita Anda penuh dengan kesempatan untuk mengajari anak Anda menghargai batasan dan mematuhi aturan. Ingat bahwa anak-anak lebih mungkin bekerjasama dan mengikuti permintaan Anda jika Anda mengajarnya dalam cara positif. Misalnya, dengan mengatakan seperti "Ayo sayang, pegang tangan Bunda kalau berjalan di trotoar" daripada "Tangan Bunda jangan dilepas!"

Untuk Anak Prasekolah
Beri anak Anda tanggung jawab istimewa, seperti memilih buah apa yang hendak Anda beli. Dengan membiarkan anak Anda mengungkapkan kemandiriannya akan membuatnya merasa nyaman. Ini akan membentuk rasa percaya dirinya.

Bila Anda pulang ke rumah, bermain pura-pura-lah dengan anak Anda untuk memberinya peluang mengeksplorasi dengan lebih rinci sebagian tugas rumah tangga Anda. Sebagai contoh, bergantian berpura-pura menjadi petugas kantor pos dan pelanggan. Ini akan membantu anak Anda memikirkan apa yang akan ia katakan dalam situasi tersebut. Dengan begitu ia berlatih beragam interaksi sosial.

Ajari anak Anda beberapa kecakapan pro-sosial yang berharga. Mintalah ia membawakan tas kecil Anda, membantu mengawasi adik kecilnya, dan meletakkan kembali mainan atau botol jus buah yang habis dipakainya, serta memilah-milah pakaiannya yang telah kering untuk Anda seterika

Menggambar Penting untuk Masa Depan Anak

Indira Belajar Menggambar & Mewarnai di GlobalArt

Pendidikan yang mendukung kreativitas anak sangatlah penting, sehingga kelak anak-anak tersebut bisa menjadi penerus bangsa yang akan membuat bangsa ini menjadi besar. Karena melalui kreativitas itulah anak-anak secara tidak langsung dididik menjadi pencipta dan penemu, bukan penjiplak dan peniru, ujar Dik Doank, artis pemilik Kandank Jurank Doank.

Menurut Dik Doank, ada banyak cara untuk bisa mendongkrak dan mendorong seseorang untuk bisa kreatif. Di antaranya; dengan brainstorming, menggunakan suasana relaks dan menyenangkan dalam menggali ide, dan menggunakan imajinasi (membayangkan apa yang belum terjadi, telah terjadi saat ini). Sementara tingkat daya kreativitas anak bisa terpicu lewat daya khayalnya. Di sekolahnya, ia ingin agar anak-anak lebih mau mengasah kreativitasnya. Mengapa? Menurutnya, melalui kreativitaslah anak bisa bertahan untuk hidup di kemudian hari.

Salah satu hal yang terpenting untuk memulai kreativitas adalah dengan cara menggambar. Segala kreativitas dan hal baru, dimulai dengan gambar. Contohnya, Wright bersaudara, penemu pesawat terbang pertama, menggambar sketsa pesawat sebelum akhirnya meluncurkan pesawat perdananya. Begitu pun dengan penemuan huruf kanji oleh masyarakat China, yang struktur utamanya adalah gambar. Niscaya, gambar adalah hal yang penting untuk mengasah kreativitas anak.

Sementara, sebuah situs pembelajaran menggambar, www.learnhowdraw.com mengatakan, bahwa kegiatan menggambar dan mewarnai adalah hal yang penting untuk anak. Pasalnya, kegiatan ini memerankan fungsi penting dalam pengembangan fisik, emosi, dan kognitif anak. Aktivitas menggambar dan mewarnai menjadi sarana anak untuk mengekspresikan dirinya sendiri dengan gambar yang ia suka, asal jangan didiktekan gambar apa. Jika di zaman dulu, di sekolah, anak-anak terbiasa mencontoh dan meniru "template" dari gurunya, misal, gambar dua buah gunung, dengan matahari di bagian tengah.

Dik mengatakan, bahwa di usia 0-7 tahun, tugas seorang anak adalah bermain, bermain, dan bermain. Sehingga sudah merupakan tugas orangtua untuk memberikan sarana untuk anak bermain. Salah satunya, ketika si anak ingin mengekspresikan dirinya lewat gambar. Ketika anak Anda sudah hobi menggambar, jangan diberhentikan. Jika Anda melihat si kecil menggambar di dinding, di baju, atau di seprai, dan Anda tidak bermasalah dengan hal tersebut, biarkan. Ini bukan berarti si kecil nakal. Artinya ia aktif. Tapi, jika Anda merasa terganggu dengan kebiasaan si anak, sebagai orang dewasa, Anda bisa melakukan kompromi, misal dengan membelikan kertas gambar untuk anak.

Menggambar bisa mengasah kreativitas anak. Jika ia tak terbiasa dan tak melatih kemampuan untuk menggambar, ia akan menjadi sama dengan orang lain. Seragam, karena terbiasa meniru. Ajaklah anak untuk melatih dirinya menggambar.