Minggu, 01 Januari 2012

Berimajinasi dengan Kata-Kata

 Indira bermain pura-pura menjadi princess


Bermain pura-pura atau pretend play, permainan imajinatif yang biasa dilakukan anak berusia 3-5 tahun. Semua peran sah-sah saja dimainkan.

Sekilas, bermain peran pura-pura itu tampak aneh bagi orang dewasa. Permainan tersebut adalah kegiatan yang wajar bahkan penuh manfaat bagi anak.

Memasuki tahun kedua usianya, anak mulai dapat mengombinasikan beberapa kata. Dia mulai memahami kalimat-kalimat sederhana. Si kecil pun mulai asyik meniru perilaku orang-orang dewasa di sekitarnya dengan cara bermain.

Anak-anak sering kali terlihat sangat serius dalam bermain pura-pura. Satu set peralatan minum teh bisa menjadi tempat untuk menjamu teman-teman imajinasinya.

Menurut Psikolog Dr Sandra Shiner, bermain pura-pura adalah bagian dari perkembangan anak yang sehat. Permainan jenis ini, lanjutnya, adalah salah satu akar dari jiwa seseorang.

Salah satu karakter manusia adalah kemampuan untuk berfantasi yaitu kemampuan untuk menarik atau mengubah dunia nyata pada dunia lain yang mungkin lebih menakutkan atau menyenangkan.

Orangtua seharusnya mendukung permainan yang dilakukan anak-anak karena pemikiran kreatif dimulai dari kemampuan untuk berimajinasi tentang ide sebelum melakukannya dalam dunia nyata. Ketika si kecil melihat bagaimana ibu menyuapinya, dia pun meniru dengan cara menyuapi bonekanya.

Ketika melihat ayah ke kantor, dokter memeriksa pasien, guru mengajar, ibu memasak, dengan bebas anak-anak meniru dalam bentuk sebuah permainan.

Orangtua dapat belajar mengenai dirinya dengan mengikuti permainan imajinasi yang dilakukan anak-anaknya.

Jika orangtua ingin mengetahui pandangan anak mengenai Anda, maka dengarkan bagaimana anak Anda berbicara dengan bonekanya. Sering kali Anda dapat mendengar bagaimana ia menyerupai tingkah orangtua saat ia bersama mainannya.

Penelitian yang dilakukan Kathleen Kirby dari Amerika Serikat, menemukan bahwa anak-anak antara usia dua hingga empat tahun melewatkan 45% - 50% waktu luang mereka untuk bermain pura-pura. Studi tersebut dilakukan Kirby terhadap anak-anak di beberapa tempat penitipan anak.

Hampir dua kali lipat banyaknya dari waktu yang mereka lakukan untuk kegiatan lain, kata Kirby.

Ketika bermain pura-pura, si kecil biasanya menggunakan imajinasi dan kata-kata untuk menggantikan objek atau situasi sesungguhnya. Imajinasi anak dapat mengubah benda maupun orang-orang yang terlibat dalam permainannya. Misalnya, tongkat dalam alam pikiran anak bisa saja tetap menjadi tongkat, namun juga dapat menjadi alat pancing atau sapu terbang.

Semakin bertambahnya usia anak, permainan pura-pura semakin canggih dan kompleks. Awalnya, si kecil hanya meniru menyuapi boneka beruangnya. Dengan semakin meningkat kemampuannya berimajinasi, ia akan memanfaatkan berbagai benda yang ditemuinya untuk membantu memainkan sebuah lakon tertentu dalam satu rentang waktu.

Kegiatan bermain pura-pura akan mereda ketika si kecil memasuki usia sekolah. Saat itu anak mulai menggunakan rasionya

Cara Bijak Menghargai Kreatifitas Anak

Tanpa disadari kritik dan saran orang tua terhadap anak memiliki pengaruh buruk bagi si kecil. Kesalahan dalam mengungkapkan kritik dan saran dapat membunuh antusiasme si kecil.
Bila si kecil dengan wajah berbinar-binar menghampiri anda lalu memamerkan “karya-nya” yang “spektakuler” berupa kartu, lukisan pegunungan atau lainnya. Apapun bentuknya, si kecil merasa bangga dan tidak sabar lagi ingin memamerkannya kepada orang yang paling dekat di hatinya.
Sikap yang ditunjukkan orang tua dalam menghadapi situasi tertentu sangat mempengaruhi si kecil. Kadang orang tua justru yang merusak suasana sebab memberikan kritik terhadap karya tersebut secara berlebihan seperti gambarnya kurang ini, tulisannya kok begitu dan sebagainya. Membuat si kecil patah hati dan melangkah pergi dengan kepala menunduk. Bahkan mungkin anak berjanji dalam hati tidak akan pernah mencoba lagi untuk membuat yang lebih baik.
Memang evaluasi dan kritik positif juga diperlukan untuk mendorong semangat si kecil agar dapat melakukan yang lebih baik pada kesempatan berikutnya, tapi anda tetap harus berhati-hati agar si kecil tidak tersinggung.
Jika antusiasme si kecil dalam belajar dan mencoba dipatahkan dengan kritik yang terlalu pedas, sulit bagi si kecil untuk menumbuhkan semangat itu kembali. Akan lebih baik jika orang tua memandang sisi positif dari usaha yang dilakukan si kecil dan berikan dukungan semangat agar si kecil meningkatkan kualitas hasil karyanya tersebut.

Berkreasilah Bersama Anak

Perkembangan karakter anak pasti menjadi salah satu perhatian utama orang tua. Ada beberapa metode sederhana tapi efektif yang bisa digunakan. Karakter anak dapat berkembang dan kedekatan dengan putra-putri tercinta juga tercipta.
Para orang tua dapat memulai dengan mengajak anak berkreasi membuat undangan pestanya. Dengan kertas dan spidol warna-warni serta pernak-pernik hiasan, anak bisa menghasilkan kartu undangan yang menarik dan pasti membuatnya bangga lantaran dibuat sendiri. Apalagi kemudian dibagikan kepada teman-teman.
Kue ulang tahun juga bisa disiapkan sendiri oleh sang anak tentunya dengan dibantu orang tua. Tokoh favorit buah hati dapat jadi sumber inspirasi. Kreasi buah hati tercinta yang satu ini juga bisa membuat pesta makin semarak. Para undangan kecil bisa bergaya dengan topi istimewa. Anak pasti bangga.
Masih ada cara lain untuk mengembangkan kepribadian anak. Misalnya yang ingin mengembangkan pribadi sabar. Yoga Kids atau yoga anak-anak bisa jadi solusinya. Tanpa banyak gerakan fisik yang sulit, anak mudah mengikuti. Tapi percayalah, setiap gerakan berhubungan dengan pembentukan aspek emosional anak.
Gerakan yoga juga bisa mengatasi berbagai penyakit ringan yang seringkali mendera anak-anak. Para orang perlu menyadari begitu banyak metode dan pola asuh anak. Pilihan ada di tangan orang tua. Ingatlah untuk selalu memilih pola asuh yang mengoptimalkan tumbuh kembang putra putri.

Bekali Anak Pengetahuan Global

Di era globalisasi ini semua hal perlu dipersiapkan agar tidak tertinggal, termasuk membekali anak dengan pengetahuan-pengetahuan global demi masa depannya nanti.

Mengetahui semua negara-negara yang ada di dunia ini bisa menjadikan suatu pengetahuan untuk anak. Di mana hal tersebut menjadi salah satu bekal untuk menghadapi era globalisasi. Mengajarkan anak tentang negara-negara yang ada di dunia ini memang sesuatu yang bagus, terutama untuk ke depannya nanti.

Dia mengatakan, mengenalkan anak pada negara-negara lain di dunia adalah hal yang bagus. Mengenalkan pada negara tidak usah yang jauh-jauh dulu, cukup diawali dari negara tetangga, misalnya Singapura atau yang sekitar
Asia saja juga tidak masalah.

Objek yang dijelaskan pada anak bisa dimulai dari apa yang terkenal dari negara tersebut. Misalnya objek pariwisata, budaya, atau warna bendera. Mengenalkan kepada anak pun bisa melalui berbagai media, seperti internet, televisi, atau majalah.

Sebenarnya, dikenalkan bisa lewat apa saja, tetapi yang lebih bagus adalah dikenalkan melalui internet atau buku-buku. Yang pasti dikenalkan lewat gambar lebih bagus.

Cara mengenalkan pada anak, sebaiknya sambil bermain. Karena dengan bermain ini, anak-anak akan lebih cepat menyerapnya. Adapun umur yang optimal untuk mengenalkan negara-negara dunia pada rentang umur 4-5 tahun. Di umur itu, anak sedang senang-senangnya bermain dan ingin tahu banyak. Selain itu, pada umur tersebut, anak-anak juga bisa menyerap lebih baik apa yang dipelajarinya.

Ternyata ada manfaat kejiwaan yang didapatkan si anak dalam mempelajari dunia ini. Di antaranya, si anak jadi bisa lebih kreatif, wawasan bertambah luas, bangga karena mempunyai pengetahuan yang berbeda dibandingkan yang lain. Anak yang berpengetahuan luas akan lebih bangga, kreatif, dan pintar. Selain itu, si anak juga mempunyai nilai tambah.

Berkeliling dunia memang impian semua orang, termasuk anak-anak. Dengan tujuan mengenal berbagai macam kebudayaan maupun kebiasaan yang dikenal dari berbagai negara pastinya menyenangkan.

Anak-anak zaman sekarang harus dipersiapkan untuk menghadapi era globalisasi. Mereka harus siap menghadapi era tersebut. Salah satunya mengenalkan mereka dengan negara-negara yang ada di seluruh dunia.

Mengajak anak-anak berkeliling dunia mengenal budaya dan alam berbagai benua. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya mendukung secara nyata tumbuh kembang generasi platinum
Indonesia sebagai aset bangsa yang bernilai. Semua kegiatan yang berlangsung ini diselenggarakan dan dikemas untuk mengembangkan pola multiple intelligence (kecerdasan majemuk) yang dimiliki anak-anak generasi platinum Indonesia.
Di antaranya kecerdasan natural, matematis logis, olah tubuh, ruang dan bangun, bahasa dan sebagainya.

Ayah bukan Hanya Figuran di Keluarga

Para ayah punya peran penting dalam keluarga, terutama dalam pengasuhan anak. Menjadi seorang ayah harus profesional, peduli, perhatian dan hadir secara utuh dalam keluarga, bagi anak-anak juga pasangannya. Ayah juga harus memainkan peran sebagai pelaku utama, bukan hanya figuran dalam keluarga.

Inilah pesan yang disampaikan Ketua Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA),  Dr Seto Mulyadi. Kak Seto menjelaskan pentingnya peran ayah bagi anak-anak dan pasangan, dalam membangun sebuah keluarga.

Penelitian di luar negeri menunjukkan para pelaku kriminal presentasi terbesarnya adalah orang yang tidak mendapatkan perhatian dari ayahnya. Ayah harus menjadi pelaku utama bersama ibu, bukan figuran, dalam keluarga, kata Kak Seto yang mengaku keempat anaknya memiliki kedekatan emosi yang kuat dengannya lantaran hubungan ayah-anak telah dibangun sejak belia melalui komunikasi yang baik.

Kak Seto melanjutkan, dari data yang masuk ke Komnas PA, 80% pelaku kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak adalah para ibu, dengan adanya kontribusi dari ayah. Kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak, terjadi bukan karena ibu yang jahat, tetapi karena ayah yang tidak peduli.

Mengapa ayah perlu peduli ?
Kehadiran ayah secara nyata di rumah, berdampak bukan hanya kepada psikologis anak namun juga ibu. Sosok ayah dibutuhkan oleh anak laki-laki, juga anak perempuan. Ibu juga membutuhkan peran ayah dalam pengasuhan untuk menimbulkan rasa aman, kebersamaan, dan pekerjaan rumah tangga yang lebih ringan. Bahkan, kehadiran peran ayah di rumah secara utuh juga memperkokoh nilai perkawinan, jelas Kak Seto.

Dari segi psikologis, anak membutuhkan model perilaku maskulin dari ayahnya. Anak perempuan pun membutuhkan model ini untuk mengembangkan kemampuannya menghadapi pasangan hidupnya nanti.

Anak perempuan dapat lebih mampu memahami perilaku laki-laki karena kedekatan yang terbangun antara dia dengan sang ayah. Kedekatan hubungan ayah dengan anak-anak juga berperan penting bagi pasangan dan hubungan pernikahan. Ibu yang merasa dibantu dalam menjalankan peran pengasuhan menimbulkan perasaan lebih aman dan nyaman, yang berpengaruh pada keharmonisan keluarga.

Menguatkan pernikahan

Kepedulian ayah terhadap keluarga menjadi penting untuk menguatkan perkawinan, kata Kak Seto. Selain itu kedekatan hubungan ayah dengan seluruh anggota keluarganya, mengembangkan rasa percaya diri ayah.

Tidak ada gunanya sukses di luar, namun saat kembali ke rumah, ayah tak dekat dengan anak. Mendapat pengakuan di rumah, apalagi dari anak-anak penting untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi seorang ayah.

Menjadi ayah harus profesional, kata Kak Seto. Langkah awalnya adalah dengan membangun kedekatan bersama anak-anak. Jangan pernah menjadikan keterbatasan waktu atau kesibukan bekerja sebagai alasan untuk tak dekat dengan anak. Karenanya kemampuan manajemen waktu menjadi penting dimiliki setiap ayah.

Komunikasi sejak dini

Untuk menjadi ayah yang peduli dan profesional, langkah awalnya mulai membiasakan kekuatan verbal, membangun komunikasi dengan anak sejak dini. Dengan begitu, anak akan terbuka berbicara dan mengungkapkan pikiran dan ekspresinya kepada orangtuanya.

Jika ingin menyontoh Kak Seto, bacakan dongeng kepada anak sejak dini. Kemampuan berdialog antara orangtua-anak semakin berkembang dari kebiasaan membacakan dongeng ini. Atau Anda dan pasangan punya cara lainnya ?

Bagaimana Menstimulasi Kecerdasan Anak Anda

Di usia 3 - 5 tahun kecerdasan anak sudah sangat maju dan kompleks, sehingga diperlukan stimulasi yang lebih tepat untuk mengembangkan kecerdasan mereka itu, salah satunya dengan bermain.
Menurut Garry L. Landreth, pendiri dan direktur Center for Play Therapy di University of North Texas (UNT), bermain adalah bagian integral dari masa kanak-kanak, media yang unik untuk memfasilitasi perkembangan ekspresi bahasa, ketrampilan komunikasi, emosi, sosial, pengambilan keputusan, serta perkembangan kognitif pada anak-anak.
Untuk itulah, metode paling tepat memberikan stimulasi pada anak-anak adalah dengan bermain. Tak ubahnya Landreth, psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia Muhammad Rizal psi juga mengatakan, bahwa bermain membuat anak di usia 3-5 tahun semakin cerdas.
Hanya saja, menurut Rizal, ada baiknya stimulasi lewat bermain itu diberikan mengikuti 7 cara kecerdasan si anak, seperti yang pernah dijelaskan oleh Dr Howard Gardner, psikolog dari Harvard University, yaitu:
Kecerdasan Spasial/Kinestetis
- Membantu pekerjaan rumah atau aktivitas lain semisal menyapu atau mencuci motor
- Bermain sepeda, petak umpet, atau naik turun tangga
Kecerdasan Interpersonal
Libatkan anak lain/tetangga yang sebaya untuk ikut bermain bersama anak Anda. Hal ini untuk mengajarkan Anak belajar berbagi dan menghargai orang lain
Kecerdasan Intrapersonal
- Menggambar, untuk melihat harapan-harapan atau luapan emosi yang saat itu sedang
  dominan pada dirinya
- Bermain peran, semisal bermain ayah-ibu atau tokoh-tokoh kepahlawanan
Kecerdasan Logis Matematis
- Ajak anak bermain pasel (puzzle) dengan kepingan yang lebih banyak
- Bermain susun balok yang memiliki angka atau huruf
Kecerdasan Musikal
- Perdengarkan lagu anak-anak, ajarkan sampai hafal satu lagu, dan bernyanyilah
   bersama-sama dengannya.
- Bermain alat musik seperti gitar atau piano mini, untuk meluapkan kecerdasan
   musikalnya
Kecerdasan Naturalis
- Menanam pohon bersama, menyiram dan memberi pupuk bersama-sama
- Memberi makan pada hewan piaraan seperti memberi makan ikan sambil Anda
   bercerita mengenai hal-hal tentang ikan
Kecerdasan Linguistik
- Berikan buku yang sudah memiliki teks (jika sudah bisa membaca)
- Jika belum bisa membaca, bacakan cerita dan ajak anak Anda menceritakan 
   pengalamannya tentang apa saja
- Ajak anak menemukan simbol-simbol sepanjang perjalanan ketika bersama Anda

Kamis, 29 Desember 2011

Anak Ceriwis Tanda Cerdas


Suka bercakap-cakap atau ceriwis merupakan salah satu pertanda kecerdasan karena berarti anak mampu menyerap informasi secara verbal, memahami, menarik kesimpulan, dan mengungkapkannya lewat keterampilan berbahasa yang baik.

Kelancaran anak berbicara dimulai pada usia 2 tahun. Di usia ini ia sudah bisa merangkai kata menjadi kalimat sederhana, kosakatanya semakin bertambah, dan penguasaannya terus berkembang. Apalagi jika lingkungan memberi stimulasi yang memadai.

Seiring dengan pertambahan usia, kemampuan anak semakin meningkat. Ia pun menjadi lebih ceriwis. Lebih lanjut, anak jadi ceriwis karena ia merasakan kesenangan saat bereksplorasi dengan lingkungan, baik itu orang baru, hal-hal baru, pengetahuan baru, dan sebagainya.

Selain itu anak juga banyak bicara dengan tujuan mendapatkan perhatian lingkungan. Dia belajar dari pengalamannya, dengan banyak bicara orang jadi memperhatikannya karena dianggap menarik atau lucu.

Yang jelas, anak-anak yang senang bicara dan bercerita biasanya senang berinteraksi dan berani mengungkapkan apa yang mereka pikirkan, rasakan dan inginkan kepada orang lain. Mereka memiliki potensi untuk bergaul dan mengembangkan relasi interpersonal yang lebih luas dibanding dengan anak-anak yang kurang terbuka dan kurang aktif bicara.